Ekonom Senior Chatib Basri. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Ekonom Senior Chatib Basri. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Defisit Transaksi Berjalan Bukan Penyakit bagi Negara Berkembang

Ekonomi defisit transaksi berjalan
Desi Angriani • 15 Maret 2019 06:21
Jakarta: Ekonom Senior Chatib Basri menilai defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) bukanlah sebuah penyakit bagi negara berkembang. Sebab, mustahil perekonomian negara emerging market seperti Indonesia dapat tumbuh tanpa impor barang modal dan bahan baku.
 
Bahkan negara maju seperti Tiongkok dan Singapura saja pernah mengalami defisit transaksi berjalan dengan rasio di atas 10 persen. Begitu pula dengan Vietnam yang baru bisa mencicipi surplus CAD pada 2011.
 
"Indonesia sebagai negara emerging market normal enggak punya modal. Suka enggak suka mesinnya impor, bahan bakunya impor," ujar Chatib dalam diskusi ekonomi dan politik KSEI di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 14 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya bila CAD surplus maka Indonesia tidak mengimpor bahan baku dan barang modal sama sekali. Sementara Indonesia baru mampu mengekspor Sumber Daya Alam (SDA). Artinya, saat ini membuat CAD surplus cukup sulit selama Indonesia belum melakukan diversifikasi produk untuk ekspor.
 
Karena itu, permasalahan ekonomi dalam negeri tak melulu berpatokan pada defisit transaksi berjalan melainkan juga pada stabilitas nilai tukar. Nilai tukar yang stabil akan berdampak pada dunia usaha dan seluruh sektor keuangan dalam negeri. Maka tak heran pemerintah dan Bank Indonesia terus mengeluarkan berbagai kebijakan demi menjaga mata uang Garuda.
 
"Kalau semua harus surplus berarti kita berfikir perfeksionis, yang harus dilakukan bagaimana dengan CAD besar tapi stabilitas rupiah terjadi," imbuh dia.
 
Chatib mencontohkan di rezim pemerintahan Soeharto, defisit transaksi berjalan pernah mencapai lima persen dari produk domestik bruto (PDB). Namun defisit saat itu bisa ditutupi dengan tingginya penanaman modal asing (PMA).
 
Berbeda dengan kondisi saat ini di mana mayoritas pembiayaan untuk mengurangi defisit transaksi berjalan berasal dari portofolio dan investasi asing. Sebab itu, dolar gampang kabur ke luar negeri lantaran sebesar 25 persen dari global bonds yang pembayarannya lewat dolar dan 75 persen pembiayaan dengan rupiah.
 
Terlihat pada 2017 investasi melalui portofolio sebesar USD20,6 miliar sedangkan dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) hanya USD19 miliar. Karenanya, pemerintah harus melakukan pendalaman di pasar keuangan demi mempertahankan arus modal dalam jangka lebih lama. Misalnya memberlakukan tobin tax untuk menarik minat investor. Di mana pengenaan pajak transaksional atas dana yang ditarik dari pasar saham hanya berlaku bagi investasi portofolio jangka pendek.
 
"Kalau pembiayaan CADnya dari portofolio anytime itu dolar bisa meninggalkan negara ini. Dengan pendalaman pasar keuangan, kita akan menghindari guncangan global terhadap perekonomian domestik," pungkas mantan Menteri Keuangan ini.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif