"Bahwa apabila tren ini berlanjut, maka di 2020 dikhawatirkan akan terjadi resesi, terutama di negara-negara maju," kata dia dalam rapat dengan Komisi XI, DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.
Dirinya menambahkan berbagai pembuat kebijakan telah memasukan kekhawatiran soal pelemahan ekonomi dan perdagangan global. Bahkan antisipasi kebijakan dilakukan dengan menjalankan kebijakan countercyclical.
"Jadi fiskal dan moneter dari para policy makers dari negara-negara terutama yang sudah mengalami tren atau tanda-tanda pelemahan seperti Jerman, Eropa, negara-negara di Meksiko, Brasil, Argentina, semua sudah masuk dalam pertumbuhan negatif," jelas dia.
Tak hanya negara di Amerika dan Eropa, pelemahan ekonomi juga mengancam negara-negara di Asia, bahkan Asia Tenggara. Negara seperti Singapura sudah masuk zona negatif, sedangkan Uni Eropa, Jepang, India, Malaysia, Thailand, Filipina, semua trennya mengalami perlemahan.
Meski begitu, Sri Mulyani tetap optimistis tetap ada peluang bagi Indonesia untuk tetap tumbuh positif. Dengan respon kebijakan yang tepat, dirinya berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mencapai target yang telah dipasang pemerintah.
"Di sisi lain, response policy, baik fiskal dan moneter dari negara-negara tersebut yang kemudian melakukan countercyclical measures kemungkinan bisa menimbulkan dampak yang positif. Sehingga dampak bersihnya di 2020 masih sesuatu yang tidak pasti," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News