"BI masih punya ruang penyesuaian, cadangan devisa masih bagus. Ruang penyesuaian suku bunga sebagai pertahanan terakhir mungkin dilakukan," kata Kepala Departemen Stabilitas Sistem Keuangan OJK Rendra Idris, di Kantor OJK, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Maret 2018.
Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Y Santoso Wibowo menambahkan rencana kenaikan suku bunga AS bisa mencapai empat kali dalam setahun ini. Namun pemerintah AS juga tidak akan tergesa-gesa dalam menaikkan suku bunganya.
"Karena permintaan masyarakat naik, mendorong inflasi AS terdongkrak ke atas. Tingkat upah naik, pengangguran turun. Inflasi di AS sampai Januari 2018 2,1 persen, di atas ekspektasi pasar. Kalau inflasi naik, bank sentral cemas," jelas dia.
Dirinya melanjutkan, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang tadinya diperkirakan satu kali, kini bisa empat kali untuk menghambat inflasi yang overheating. Hal ini tentunya akan berdampak pada Indonesia termasuk pelemahan rupiah serta risiko kenaikan suku bunga.
"Kalau FFR naik, ada dampaknya bagi kita. Ada kemungkinan BI 7-day Repo Rate harus dinaikkan. Capital outflow berbalik ke AS. Kecuali kalau inflasi kita rendah, maka kita tidak perlu menaikkan tingkat bunga," pungkasnya.
Sekadar diketahui, penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral telah mencapai 300 basis poin (bps) sejak awal tahun 2016. Sedangkan suku bunga saat ini berada pada level 4,25 persen yang bertahan sejak September tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News