Pelaku Otomotif Tunggu Insentif Pajak Mobil Listrik
Illustrasi. Dok; AFP.
Jakarta: Masa depan mobil listrik masih menunggu insentif pemerintah. Tanpa adanya insentif yang mengairahkan bagi pelaku industri otomotif, proyek ramah lingkungan itu tak bisa berkembang seperti halnya di negara lain.

Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Prijono Sugiarto mengatakan banyak pelaku otomotif ternama sudah mengagendakan mobil listrik sebagai masa depan industri otomotif dalam beberapa tahun ke depan.

Honda misalnya sudah menyiapkan electrical fleet yang terdiri dari mobil hybrid dan mobil listrik seperti Tesla, perusahaan milik Elon Musk. Bahkan mobil listrik bisa mencapai lebih dari separuh produksi mobil Honda di masa depan.

"Saya sudah bicara dengan beberapa CEO Honda. Mereka sudah mengatakan dua kali bahwa Honda akan punya dua per tiga electrical feet dari total produksi, dari 100 ada 67 electrical fleet dan ada 50 itu di hybrid dan sisanya ada di pure listrik (mirip Tesla)," kata dia ketika berkunjung ke Media Group, Selasa, 30 Oktober 2018.

Jerman pada 2025 juga berencana akan memiliki komposisi mobil listrik dan hybrid dengan separuh dari total electrical fleet. Di Jerman budaya masyarakatnya masih menghargai upaya mengurangi polusi lingkungan sehingga kebijakan ini akan lebih cepat diterapkan.

"Jerman itu tulis diproduknya 90 gram rasio emisi per kilometer (km). Mercedes Benz S class laku karena cc makin besar dianggap makin mengotori lingkungan. Kebalikannya di Indonesia dan Tiongkok semakin besar CC-nya semakin keren," kata dia.

Lambat laun dia mengatakan harga baterai untuk mobil listrik bisa semakin murah dan terjangkau. Dulu baterai mobil listrik itu hanya bisa dipakai untuk jarak 150 km. Sekarang baterai mobil listrik bisa dipakai untuk jarak 400 km.

"Jadi saya enggak bisa underestimate teknologi dan makin banyak orang pakai (mobil listrik), harganya semakin murah," kata dia.

Dia pun masih menunggu insentif yang akan diberikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu ) terhadap mobil listrik. Diharapkan akan ada kebijakan keringanan pajak seperti Low Cost Green Car (LCGC) sehingga mendorong pasar otomotif. Kebijakan ini diperlukan bagi pelaku otomotif.

"Penjualan LCGC sampai 25 persen dari market. Bayangin kalau enggak ada LCGC industri otomotif bisa stuck. Teori elestisitas akan terbaca dan daya beli orang Indonesia kan kelihatan," jelas dia.

Namun lagi-lagi perusahaan berkode emiten ASII ini harus menunggu prinsipal dari Jepang untuk melakukan lokalisasi mobil listrik. Keputusan dari pihak Jepang juga menentukan perkembangan mobil listrik di Indonesia.

"Kita tergantung prinsipal kami, karena kami enggak punya ability," jelas dia.

Sampai saat ini pihak Jepang masih membahas internal combbassion engine untuk pengembangan produk. Namun seiring dengan perkembangan mobil listrik ada perubahan bisnis yang juga berubah baik dari pabrik spare part serta rantai pasokan lainnya. Itu yang harus dipahami.  

"Lama-lama pabrik piston hilang," pungkas dia.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id