Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua dari kiri). (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua dari kiri). (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Strategi Pemerintah Antisipasi Perlambatan Ekonomi Tiongkok

Ekonomi ekonomi china kssk
Desi Angriani • 29 Januari 2019 13:45
Jakarta: Pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak dari perlambatan ekonomi Tiongkok terhadap perekonomian Indonesia. Cara tersebut dipercaya bakal mempertahankan kinerja ekspor Tanah Air.
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan tiga instrumen bakal digunakan pemerintah dalam menangkis dampak dari perlambatan ekonomi Tiongkok. Pertama, menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi dengan mengendalikan inflasi, mendorong konsumsi, serta menjaga daya beli masyarakat.
 
"Kita akan mendorong konsumsi lebih dari 57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Maka ini bisa memberikan penyeimbang kondisi eksternal," ujar Ani sapaannya dalam sebuah jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 29 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Cara kedua melalui strategi investasi dari sisi kebijakan moneter. Meski pasar keuangan mengalami tekanan suku bunga global yang tinggi, penyaluran kredit masih tumbuh dengan baik karena suku bunga kredit dijaga pada level tertentu.
 
Selain itu, market cap atau nilai kapitalisasi pasar semakin membesar sehingga investasi di Indonesia bisa didanai oleh perbankan dan pasar keuangan. Sementara dari sisi pemerintah, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan fasilitas fiskal berupa penangguhan bea masuk, pembebasan cukai yang mencapai Rp150 triliun pada 2018.
 
"Kita juga permudah tax holiday dengan syarat clear. Kalau investasi di atas Rp1 triliun dapat apa, insentif itu dalam rangka tidak hanya investasi tapi juga ekspor. Karena masih defisit jadi masih diperbaiki," ungkap Ani.
 
Selanjutnya, menggunakan instrumen permintaan dalam negeri. Caranya dengan melakukan diversifikasi produk guna mendorong kinerja ekspor.
 
"Meski belanja negara defisit 84 persen tapi pembiayaan cukup baik. 2019 banyak program perlindungan sosial dan jaga momentum SDA besar. Ini diharapkan memperkuat pondasi Indonesia," pungkasnya.
 
Sebelumnya, perlambatan ekonomi Tiongkok dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan harga komoditas dalam negeri imbas dari penurunan ekspor nonmigas ke negara itu.
 
Sebab, Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia selama bertahun-tahun. Pada periode Januari-Desember 2018, nilai ekspor ke Tiongkok sebesar USD24.392,7 juta. Jumlah ini 15 persen dari total ekspor RI.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif