Perubahan Iklim Berpotensi Rugikan PDB hingga 20%
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro (Foto: Medcom.id/Ade Hapsari Lestarini)
Nusa Dua: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terus berjuang mewujudkan perencanaan pembangunan rendah karbon atau Low Carbon Development Indonesia (LCDI). Perwujudan itu mengingat perubahan iklim menimbulkan potensi kerugian Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 20 persen.

Demikian disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro, dalam sambutannya di diskusi bertajuk 'Low Carbon Development and Green Economy', di paralel event Annual Meeting IMF-World Bank 2018, di Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Bali, Kamis,11 Oktober 2018.

"Sudah saatnya Indonesia menjalankan prinsip pembangunan berkelanjutan yang mampu menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan," tutur dia.

Menurut Bambang pemerintah hingga saat ini terus berkomitmen menjadi yang terdepan dalam pembangunan berkelanjutan dengan menginisiasi LCDI dan bersiap untuk mengimplementasikan mekanisme green financing.

LCDI pertama kali digagas United Nations Conference on Climate Change (COP 23 UNFCCC) 2017 di Bonn, Jerman. Negara-negara di dunia pun didorong untuk menerapkan kebijakan progresif alam serta menghadang dampak negatif dari perubahan iklim sekaligus menjaga keseimbangan ekonomi dan pembangunan sosial.

Oleh karena itu, Bappenas mengadakan diskusi ini sebagai wadah bagi pembicara dan peserta untuk berbagi pengetahuan tentang ekonomi hijau, penerapan model bisnis yang mengutamakan pembangunan inklusif, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan memastikan pengelolaan dan restorasi sumber daya alam dalam ekosistem untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.

"Mengingat dunia kita berubah dengan cepat, kita dihadapkan pada tantangan seperti kenaikan suhu bumi antara 1,5-4 derajat celcius yang akan memengaruhi produktivitas pangan secara signifikan dan meningkatkan risiko bencana alam terkait perubahan iklim," jelas dia.

Selain itu, tingginya tingkat deforestasi dan degradasi lahan serta polusi udara dari kebakaran lahan gambut dan bahan bakar minyak akan berdampak negatif bagi produktivitas dan kualitas kehidupan manusia.

"Faktor-faktor ini membuat pentingnya LCDI bagi masa depan Indonesia menjadi tidak diragukan. Untuk menggarisbawahi komitmen dalam mengimplementasikan LCDI, Bappenas akan mengarusutamakan laporan LCDI tentang pembangunan rendah karbon ke dalam kerangka kerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024," tuturnya.

Bambang menambahkan hal ini membuat rencana pembangunan tersebut adalah RPJMN pertama yang mengusung rendah karbon dalam sepanjang sejarah Indonesia. Laporan LCDI tidak hanya berguna sebagai acuan persiapan rencana pembangunan, tetapi juga sebagai akseleran pertumbuhan ekonomi yang cepat, pengurangan tingkat kemiskinan, dan penurunan GHG.

 



(ABD)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id