Hal tersebut terungkap dalam hasil kajian Bank Mandiri terhadap makro ekonomi Indonesia terkini yang dipublikasikan, Senin (9/6/2014). Tingginya defisit transaksi berjalan dipicu oleh masih kuatnya impor dan lemahnya ekspor.
"Perekonomian Indonesia tahun ini memasuki periode stabilisasi, kami revisi proyeksi sebelumnya. Defisit transaksi berjalan masih berada di level 3,1%, melebar dari proyeksi sebelumnya 2,7%," ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, di Jakarta, Senin siang.
Destry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi berada pada periode melambat. Laju ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Pada kuartal I tahun ini, konsumsi domestik berkontribusi 3,1% terhadap pertumbuhan. Sementara investasi menyumbangkan 5,1%.
Sedangkan kontribusi ekspor dan belanja pemerintah melemah, yakni masing-masing 0,2% dan 1,2% terhadap PDB. Komposisi penopang pertumbuhan diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun. Alasannya, terganggunya ekspor seiring dengan perlambatan ekonomi global dan rendahnya konsumsi pemerintah sebagai akibat masa transisi setelah Pemilu.
"Oleh karena itu, kami merevisi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,6% menjadi 5,3%," jelas Destry. Di sisi lain, struktur industri nasional masih sangat rapuh. Hal ini terlihat dari tidak berkembangnya industri hulu dan tengah.
Dampaknya, impor meningkat. Sebab, kebutuhan investasi di dalam negeri masih dipenuhi oleh barang-barang asing. Selain itu, impor migas masih tinggi karena kebijakan sektor energi yang lemah. Sektor jasa seperti angkutan dan asuransi juga masih lemah. "Makanya, defisit transaksi berjalan masih tinggi tahun ini," tandas dia.
Kondisi ini, kata Destry, berakibat pada terus tertekannya nilai tukar rupiah. Dalam jangka pendek ini, rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp11.500-Rp12.400 per dolar AS
Implikasinya, Destry melihat akan terjadi kenaikan suku bunga acuan atau BI rate. Untuk mengendalikan defisit neraca berjalan, BI berpotensi menaikkan kembali BI rate sebesar 0,25 basis poin. "Kenaikan BI rate ini berpotensi terjadi pada akhir kuartal III tahun ini," kata dia. BI rate saat ini masih di level 7,5%.
Destry menyebutkan, inflasi masih bergerak terkendali, yakni 5%, hingga akhir tahun. Namun, pergerakan kenaikan harga barang dan jasa bisa terkoreksi naik jika pemerintah merealisasikan kebijakan kenaikan harga listrik. Jika tarif listrik jadi dinaikan, inflasi dapat terkerek ke level 5,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News