Ekonom senior Raden Pardede. Foto: dok MI/Susanto.
Ekonom senior Raden Pardede. Foto: dok MI/Susanto.

Jangan Kaget Jika Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Minus

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Indonesia
Antara • 30 Juni 2020 22:07
Jakarta: Ekonom senior Raden Pardede mengaku tidak akan kaget jika pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2020 minus hingga tiga persen atau lima persen. Hal ini merujuk kondisi di Tiongkok.
 
Ia menuturkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan I-2020 minus 6,8 persen. Padahal wabah covid-19 sudah ditemukan di Wuhan pada kuartal IV-2019.
 
"Di kita, dampaknya memang terlihat di Maret, pandemi muncul. Itu pun sudah terlihat penurunan meski masih positif 2,97 persen (kuartal I-2020). Di kuartal II nanti akan sangat mirip dengan yang terjadi di Tiongkok. Tidak akan jauh dari situ, apa akan minus tiga persen, lima persen, saya pikir kita tidak terlalu kaget," katanya dalam webinar bertajuk "RUU Cipta Kerja dan Ekonomi Pandemi: Opini Publik Nasional", dikutip dari Antara, Selasa, 30 Juni 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Raden, pertumbuhan ekonomi yang minus bisa terjadi lantaran pemerintah sudah melarang warga untuk bekerja atau bepergian demi melindungi kesehatan. Otomatis kegiatan ekonomi juga harus melambat.
 
Namun, keadaan ekonomi yang lebih buruk dibandingkan tahun lalu juga terjadi di seluruh dunia akibat pandemi covid-19.
 
"Satu hal, (krisis) kali ini agak beda dengan krisis lainnya karena secara sengaja pemerintah menghentikan kegiatan. Di krisis sebelumnya, bahkan saat great depression dan Perang Dunia II pun terjadi krisis ekonomi, tapi tidak pernah pemerintah melarang orang bekerja," jelasnya.
 
Dengan mulai dibukanya kegiatan ekonomi secara bertahap mulai awal Juni, diharapkan bisa kembali mendorong pertumbuhan ekonomi untuk kuartal berikutnya.
 
Lagipula, kegiatan ekonomi yang mulai dibuka juga lantaran banyak pekerja di sektor nonformal yang tidak mampu bertahan jika tidak bekerja kecuali mendapat aokongan penuh dari pemerintah.
 
Hal itu, tentu berbeda dengan kondisi di negara maju yang memiliki sistem jaminan sosial mumpuni.
 
"Makanya mulai awal Juni dibuka dan banyak yang bahkan saat dilarang pun masih bekerja, begitu dibuka (pembatasan) maka mayoritas kembali bekerja," tuturnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif