"Harus hati-hati, makin kita mengundang FDI, impor kita juga makin besar. Ini berarti defisitnya akan makin lebar," katanya ditemui di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2014).
Dia mengingatkan FDI jangan diperhitungkan sebagai tambahan cadangan devisa (cadev), karena sifatnya untuk membayar barang. Selain itu, semakin banyak FDI yang masuk ke Indonesia berarti semakin bertambah juga jumlah Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Saat ini saja kata Aviliani, ULN Indonesia hampir 50 persen dari cadangan devisa. Artinya harus ada langkah baru yang dilakukan pemerintah.
"Jadi mungkin pemerintah harus cara untuk menambah cadangan devisa selain melakukan ekspansi dalam infrastruktur, karena kalau misalnya tidak ada cadangan, makin kecil rupiah kita bisa makin melemah," katanya.
Yang harus dilakukan untuk menambah cadangan devisa, menurut dia, yakni dengan menggenjot ekspor. "Yang harus dipikirkan naikkan ekspor, kalau ekspor tidak pernah dinaikkan kita tidak pernah dapat devisa, kalau tidak dapat devisa tapi harus bayar devisa untuk utang terus, otomatis tidak sanggup," ucapnya.
Menggenjot ekspor dalam jangka pendek, menurut Aviliani bisa dengan mengubah pasar yang lebih prospektif seperti Asia Tenggara, Asia Pasifik, Timur Tengah. "Itu kalau kita lihat kita hanya nol koma sekian ekspor kita ke sana, padahal itu sangat potensial penduduknya rata-rata di atas 50 juta. Kondisi masyarakatnya hampir sama dengan kita tapi jaringan kerja sama kita masih kecil," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News