Ketua Banggar DPR RI, Ahmadi Noor Supit, mengatakan, pembahasan APBNP 2015 harus sudah diselesaikan pembahasannya dalam kurun waktu satu bulan setelah pemerintah mengajukan draf Rancangan Undang-undang APBNP 2015.
"Waktu paling lama satu bulan sejak diajukan, ini sudah mulai diajukan sejak 15 Januari kemarin, dan kalau bisa 12 Februari sudah selesai," terang Ahmadi dalam sidang, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin, 19 Januari 2015.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro, juga menyatakan hal yang sama. Dia menuturkan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, Kementerian PPN, dan Kementerian terkait lainnya yang ikut dalam pembahasan APBNP 2015 sepakat dengan batas waktu yang ditentukan oleh DPR.
"Kami menyetujui usulan jadwal, tapi mungkin ada beberapa hari yang harus digesr karena adanya pekerjaan yang harus dilakukan, Tapi kami juga sependapat kalau bisa pada 12 Februari 2015 sudah selesai," kata Bambang.
Alasan utamanya, lanjut Bambang, tentu karena pemerintah baruharus segera mewujudkan visi misinya. APBN 2015 yang disusun oleh pemerintah sebelumnya masih bersifat baseline, sehingga belum memasukan visi misi pemerintah baru. Belum lagi masalah nomenklatur kementerian dan lembaga yang baru, baik itu dipisah, digabung, atau berubah.
Dalam draf yang disampaikan dan dipaparkan, Bambang menyebutkan ada beberapa asumsi makro yang berubah seperti target inflasi menjadi lima persen, rupiah Rp12.200 per USD, tingkat suku bunga SPN tiga bulan menjadi 6,2 persen, lifting minyak menjadi 849 ribu barel per hari, lifting gas 1.170 ribu barel per hari setara minyak, dan harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) menjadi USD70 per barel mengikuti perkembangan minyak dunia.
Dalam APBN 2015, rupiah diasumsikan di angka Rp11.900 per USD, inflasi 4,4 persen, tingkat suku bunga SPN 3 bulan 6,0 persen, ICP USD105 per barel, lifting minyak 900 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.248 ribu barel per hari setara minyak. Sementara untuk target pertumbuhan, Pemerintah masih optimis menaruh pada angka 5,8 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News