Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Fitch Ramal Defisit Fiskal RI Bakal Normal di 2023

Ekonomi Bank Indonesia Ekonomi Indonesia defisit anggaran kebijakan fiskal
Husen Miftahudin • 10 Agustus 2020 22:13
Jakarta: Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi covid-19. Selain soal kesehatan, langkah pemerintah RI menahan perlambatan perekonomian nasional imbas gempuran pandemi juga 'diacungi jempol' oleh Fitch.
 
Terkait ekonomi, pemerintah RI menempuh sejumlah langkah terobosan yang bersifat sementara. Termasuk penundaan ketentuan batas atas defisit fiskal sebesar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) selama tiga tahun serta kebijakan pembiayaan defisit secara langsung oleh bank sentral.
 
Dalam pandangan Fitch, kebijakan fiskal yang berhati-hati dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan ruang bagi berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi dampak pandemi covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fitch memperkirakan defisit fiskal pada 2020 akan meningkat menjadi sekitar 6,0 persen pada 2020 dari 2,2 persen pada 2019. Hal ini dipengaruhi oleh belanja pemerintah yang lebih tinggi di tengah penerimaan yang lebih rendah akibat perlambatan ekonomi.
 
Selanjutnya, defisit fiskal akan terus menurun menjadi 5,0 persen dan 3,5 persen masing-masing pada 2021 dan 2022, sejalan dengan berkurangnya pengeluaran terkait pandemi. Kemudian pada 2023, defisit fiskal RI bakal kembali normal.
 
"Mengacu pada defisit fiskal selama satu dekade terakhir yang selalu berada di bawah tiga persen dari PDB, Fitch meyakini pemerintah akan memenuhi komitmennya untuk membawa defisit fiskal kembali di bawah tiga persen dari PDB pada 2023," ungkap Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2020.
 
Sebelumnya, Fitch mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada peringkat BBB (Investment Grade) dengan outlook stabil pada 10 Agustus 2020. Terdapat beberapa faktor kunci yang mendukung afirmasi peringkat RI tersebut, yakni prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang baik dan beban utang pemerintah yang relatif rendah.
 
Meski demikian, Fitch menggarisbawahi tantangan yang dihadapi, yaitu masih tingginya ketergantungan terhadap sumber pembiayaan eksternal, penerimaan pemerintah yang rendah, serta sisi struktural seperti indikator tata kelola dan PDB per kapita yang masih tertinggal dibandingkan negara berkembang (peer country).
 
Dalam asesmennya Fitch memperkirakan bahwa aktivitas ekonomi di Indonesia akan terkontraksi pada 2020, dipengaruhi pandemi covid-19. Kontraksi ini merupakan dampak dari penerapan kebijakan social distancing yang memengaruhi konsumsi dan investasi, penurunan terms of trade yang bersifat temporer, dan terhentinya arus masuk wisatawan mancanegara. Dampak dari pandemi yang cukup kuat dan menyeluruh terhadap aktivitas ekonomi ini tercermin pada kontraksi sebesar 5,3 persen pada kuartal II-2020.
 
Namun, Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali meningkat menjadi 6,6 persen pada 2021. Momentum pertumbuhan ekonomi diperkirakan berlanjut pada 2022, yaitu tumbuh 5,5 persen, antara lain didukung oleh fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur.
 
Lebih lanjut, Fitch menyatakan bahwa pemerintah telah merespons pandemi covid-19 dengan cepat melalui berbagai kebijakan untuk mendukung sektor rumah tangga dan korporasi, termasuk Usaha Kecil dan Menengah (UMK).
 
Secara keseluruhan, jumlah dukungan pemerintah untuk mengatasi pandemi mencapai Rp695 triliun (4,4 persen dari PDB), mencakup bantuan langsung tunai, penyediaan kebutuhan pokok, penyediaan jaminan, dan insentif perpajakan.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif