Indef: Insentif Fiskal di Sektor Pendidikan Kurang Menarik
Ekonom Indef Berly Martawardaya. (FOTO: Medcom.id)
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai insentif fiskal untuk riset dan pengembangan yang ditawarkan Indonesia dalam menunjang ekosistem investasi kurang menarik.

Sehingga, hal tersebut membuat perusahaan dalam negeri seringkali melakukan riset ke negara luar yang dirasa memiliki insentif menarik.

"Kita mewawancarai beberapa perusahaan dalam negeri, mereka banyak investasi di luar karena lebih tertarik insentif fiskalnya," ujar Program Director Indef Berly Martawardaya, di Gedung Annex, Jakarta, Selasa, 8 Mei 2018.

Ia menilai pemerintah juga harus dapat melibatkan kampus dan lembaga riset lokal dalam bekerja sama dengan investor. Dengan begitu investor akan melirik Indonesia untuk melakukan riset dan pengembangan.

"Yang penting insentif khusus perusahaan asing harus bekerja sama dengan kampus lokal dan lembaga riset. Kita tidak menginginkan ada riset center isinya orang luar," tuturnya.

Dia membandingkan insentif fiskal Indonesia dengan beberapa negara di Asia seperti Jepang yang memberikan tax credit 30 persen dan India yang memberikan insentif 150 persen tax deduction jika mengembangkan riset di universitas lokal.

Bahkan, negara tetangga Malaysia dapat memberikan penambahan lima persen tax holiday jika melaksanakan riset di negaranya.

Sedangkan Indonesia dengan penambahan satu tahun insentif tax allowance masih dirasa kurang menarik. "Melakukan riset di Indonesia hanya dapat satu tahun tax allowance, investor akan susah memilih Indonesia," pungkasnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id