Perang Rusia dan Ukraina. Foto : AFP.
Perang Rusia dan Ukraina. Foto : AFP.

Dampak Ekonomi Perang Rusia-Ukraina Relatif Kecil

Ekonomi ekonomi rusia komoditas Harga BBM Ekonomi Indonesia Perang Rusia-Ukraina
Antara • 21 April 2022 15:01
Jakarta: Chief Economist PT Danareksa (Persero) Rima Prama Artha menyebut dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina relatif kecil, karena kedua negara tersebut bukan mitra dagang utama Indonesia.
 
"Secara langsung dampaknya kepada Indonesia sebenarnya kecil karena bukan main partner kita," katanya, dikutip dari Antara, Kamis, 21 April 2022.
 
Porsi ekspor dan impor Indonesia pada 2022 dengan Rusia masing-masing sebesar 0,64 persen. Sedangkan dengan Ukraina masing-masing sebesar 0,18 persen dan 0,53 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komoditas yang diekspor ke Rusia dan Ukraina sebagian besar adalah CPO, namun nilai ekspor tersebut kecil dan masing-masing sebesar 2,42 persen dan 0,92 persen dari total ekspor CPO Indonesia.
 
Selain itu komoditas yang diimpor dari Rusia adalah besi/baja yang hanya mencakup 2,64 persen dari total impor besi dan baja. Untuk impor dari Ukraina adalah gandum yang mencakup 24,45 persen dari total impor gandum.

Ancaman harga minyak

Kendati demikian, Rima menyebut kenaikan harga minyak yang berpengaruh ke seluruh dunia tentu juga turut berdampak pada Indonesia yang dirasakan dalam bentuk inflasi yang ancamannya bisa melebar ke berbagai sektor.
 
"Inflasi yang paling hebat bulan ini karena setiap tahun bulan Ramadhan adalah inflasi tertinggi dan kemudian adanya kenaikan harga beberapa komoditas dan krisis energi yang bisa membuat inflasi lebih tinggi," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Rima menyampaikan perang Rusia-Ukraina kepada pasar uang juga tidak terlalu mengkhawatirkan karena dana asing masuk ke pasar saham, namun keluar dari pasar utang.
 
"Sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan karena kepemilikan asing di pasar uang kita hanya kecil 18 persen," tuturnya.
 
Kendati demikian kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), terkait suku bunga hingga tujuh kali tentu akan berdampak. Hal tersebut dinilainya membuat perbankan lebih tertarik untuk memberikan kredit yang membuat yield pada bond berubah dan memberi beban pada APBN.

Pertumbuhan ekonomi melambat

Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia direvisi melambat di tengah konflik geopolitik Rusia-Ukraina serta normalisasi kebijakan moneter. Dalam laporan World Economic Outlook April 2022, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,4 persen menjadi 3,6 persen di 2022.
 
Selain itu Danareksa memperkirakan pemulihan masih berlanjut di tengah kenaikan harga dan potensi kenaikan BI7DRR.
 
"Proyeksi kami pertumbuhan berkisar 4,7-5,1 persen di kuartal pertama dan secara umum itu 4,66-5,31 persen, kemudian suku bunga naik sekitar 0,5 sampai 0,75 basis poin karena basisnya BI menaikkan suku bunga adalah inflasi, sehingga kenaikannya belum terlalu banyak," ucap dia.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif