NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: MI/ Pius Erlangga
Ilustrasi. Foto: MI/ Pius Erlangga

Dampak Korona ke Ekonomi RI Ditaksir Mulai Maret

Ekonomi perekonomian Virus Korona
Antara • 24 Februari 2020 16:30
Jakarta: Sekretaris Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Susiwijono memprediksikan dampak virus korona baru atau Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia akan mulai terjadi pada Maret 2020.
 
"Puncaknya virus korona itu 20-30 Januari. Jadi kalau satu sampai dua bulan plus itu berarti di pertengahan Maret akan terasa," katanya seperti dikutip dari Antara, Senin, 24 Februari 2020.
 
Susi mengatakan hal tersebut berkaitan dengan korban virus korona yang terus bertambah. Hingga hari ini, total kematian global akibat virus korona kini telah melampauui 2.600. Sementara total kasusnya mulai mendekati 80 ribu. Untuk pasien sembuh di Tiongkok dan puluhan negara lainnya, jumlahnya mencapai 24.963.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perubahannya sangat cepat dari ekonomi dan politik, jadi kita perlu hati-hati betul menyikapi Covid-19. Perkembangannya eksponensial,” ujar Susiwijono.
 
Ia menjelaskan virus korona berdampak pada ekonomi Indonesia, salah satunya melalui penerimaan negara dari sektor impor yang menurun karena sekitar 74 persen barang modal untuk industri atau impor Indonesia masih berasal dari Tiongkok.
 
Meskipun hingga kini Indonesia masih memiliki stok bahan modal untuk industri, kata dia, namun persediaan itu diproyeksikan akan habis dalam waktu satu hingga dua bulan mendatang.
 
"Impor kita kan 74 persen barang modal bahan baku. Memang kita masih punya stok, tapi biasanya siklusnya satu sampai dua bulan akan kesulitan," katanya.
 
Tak hanya itu, dampak wabah Virus korona juga terjadi melalui penghentian lalu lintas orang, terutama untuk wisatawan Tiongkok yang telah dilakukan sejak 5 Februari sehingga menghilangkan penerimaan negara dari sektor pariwisata.
 
Ia melanjutkan penghentian wisatawan Tiongkok untuk masuk ke Indonesia juga berdampak pada lalu lintas uang yang hilang yakni melalui devisa.
 
“Masalah utamanya nanti berpengaruh kepada semuanya, lalu lintas barang, orang, dan uang. Kalau lalu lintas orang kita udah stop per 5 Februari sudah enggak ada orang dari Tiongkok," ujarnya.
 
Oleh sebab itu, Susiwijono mengatakan pemerintah terus memonitor dan memikirkan upaya-upaya dalam menghadapi hal tersebut, seperti melalui RUU Omnibus Law Cipta Kerja dan Perpajakan yang sedang didorong realisasinya.
 
"Global sangat dinamis sekali, makanya RUU Cipta Kerja dan Perpajakan harus kita dorong secepat-cepatnya supaya bisa respon itu. Lalu bagaimana insentif untuk tiket, insentif belanja di depan yang kaitannya dengan bantuan sosial, dana desa, karena ini kan strategi," katanya.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif