Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Dok.MI
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: Dok.MI

Sri Mulyani: Utang RI Masih Lebih Baik dari Negara Lain

Ekonomi Sri Mulyani defisit anggaran
Husen Miftahudin • 19 Oktober 2020 15:03
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memastikan rasio utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain. Sebab, defisit fiskal RI yang pada tahun ini dipatok sebesar Rp1.039,2 triliun atau 6,32 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), diklaim masih terjaga.
 
Adapun hingga akhir September 2020, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai sebesar Rp682,1 triliun atau setara 4,16 persen dari PDB. Angka tersebut lebih lebar ketimbang defisit yang terjadi pada periode yang sama 2019 sebesar Rp252,41 triliun atau setara 1,34 persen dari PDB.
 
"Indonesia dengan defisit yang 6,3 persen dan tingkat utang kita di 38,5 persen proyeksinya untuk tahun ini, kita sudah mulai melihat adanya pemulihan ekonomi. Jadi kita sudah mulai melakukan konsolidasi fiskal, tentu tidak terlalu tiba-tiba, tapi dilakukan secara measure atau berhati-hati dan penuh kalkulasi supaya ekonominya betul-betul bisa kembali," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Oktober secara virtual, Senin, 19 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan rasio utang sebesar 38,5 persen dari PDB untuk 2020 ini, sebut Sri Mulyani, Indonesia masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara-negara lainnya. Meskipun tingkat utang RI itu mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di 30,5 persen terhadap PDB.
 
Amerika Serikat (AS) misalnya, kebijakan countercyclical imbas pandemi covid-19 membuat Negeri Paman Sam itu terpaksa memperlebar rasio utangnya. Dari 108,7 persen di 2019 menjadi 131,2 persen terhadap PDB di tahun ini.
 
Rasio utang Prancis juga sudah menembus 118,7 persen dari 98,1 persen di 2019. Kanada pun demikian, dengan tingkat utang terhadap PDB di 2020 ini yang mencapai 114,6 persen dari 88,6 persen di tahun lalu.
 
Inggris dari 85,4 persen menjadi 108 persen. Jepang dari 238 persen menjadi 266,2 persen di 2020 ini. Italia pun sama, dari 134,8 persen di 2019 menjadi 161,8 persen di 2020.
 
"Jadi kalau kita lihat di semua negara, terjadi kenaikan yang sangat tinggi di dalam kenaikan utangnya. Even Jerman yang paling hati-hati, prudent, dan konservatif pun kita lihat defisitnya melonjak dari 59 persen menjadi 73 persen," paparnya.
 
Tak terkecuali bagi negara-negara berkembang seperti Malaysia yang rasio utang terhadap PDB naik dari 57,2 persen menjadi 67,6 persen. Tiongkok dari 52,6 persen ke 61,7 persen. Thailand juga naik dari 41,1 persen menjadi 50,4 persen, Filipina dari 37 persen ke 48,9 persen.
 
"Indonesia juga mengalami tekanan yang sama karena kita melakukan countercyclical. Jadi memang tema yang paling besar dari sisi kondisi covid-19 ini dan pascacovid-19 adalah bagaimana negara-negara mampu untuk melakukan kembali konsolidasi fiskal, namun tidak terlalu cepat agar pemulihan ekonomi tidak terdistorsi," tutup Sri Mulyani.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif