Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

CAD Bisa Ditopang Aliran Modal Asing

Ekonomi bank indonesia defisit transaksi berjalan
Nia Deviyana • 01 Maret 2019 16:28
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan aliran modal asing yang masuk secara year to date (ytd) sampai dengan 28 Februari 2019 totalnya mencapai Rp63 triliun. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6 triliun.
 
"Aliran modal asing yang masuk sampai dengan 28 Februari totalnya Rp63 triliun (ytd), terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp49,5 triliun, saham Rp12,6 triliun, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp1,4 triliun," jelas Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.
 
Perry mengapresiasi kondisi ini sebagai cerminan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, terutama yang berkaitan dengan kebijakan yang ditempuh pemerintah dan BI.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, bertambahnya aliran modal asing diharapkan memberi kontribusi positif terhadap kinerja neraca pembayaran yang diperkirakan kembali surplus dengan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang lebih rendah dari kuartal IV-2018.
 
"Dengan aliran modal asing yang tetap besar, kita perkirakan di kuartal I neraca pembayaran mengalami surplus dan CAD lebih rendah," kata Perry.
 
BI mencatat kinerja neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 sebesar USD5,4 miliar. Selain arus modal yang masuk cukup deras, surplus neraca modal juga dikontribusikan dari cadangan devisa kuartal IV-2018 yang meningkat menjadi USD120,7 miliar, setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor dan utang luar negeri (ULN) pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
 
Kendati demikian, posisi neraca transaksi berjalan pada kuartal IV-2018 mengalami defisit USD9,1 miliar atau 3,57 persen terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi ketimbang defisit transaksi berjalan atau CAD di kuartal sebelumnya sebesar USD8,6 miliar atau 3,28 persen PDB.
 
Peningkatan defisit utamanya dipengaruhi penurunan kinerja perdagangan barang nonmigas. Hal ini lantaran masih tingginya impor sejalan dengan peningkatan permintaan domestik di tengah kinerja ekspor yang terbatas.
 
Perry mengatakan pihaknya terus mencermati perkembangan global, utamanya terkait ketidakpastian pasar keuangan dunia yang masih tinggi serta volume perdagangan dunia dan harga komoditas global yang cenderung menurun.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif