Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO: Kementerian Keuangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO: Kementerian Keuangan

Kasus Omicron Lewati Puncak Delta, Sri Mulyani: Hati-Hati!

Eko Nordiansyah • 22 Februari 2022 17:30
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia saat ini tengah memasuki lonjakan kasus covid-19 varian Omicron. Bahkan jumlah kasus harian akibat virus baru itu mencapai 60 ribu kasus atau telah melewati puncak saat kasus Delta pada periode Juli-Agustus 2021 yang pernah sampai 56 ribu kasus.

Walaupun terjadi kenaikan kasus covid-19, ia mengatakan, kondisi saat ini berbeda dengan apa yang terjadi pada pertengahan 2021 lalu. Hal ini bisa dilihat dari angka keterisian rumah sakit (BOR) serta angka kematian yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan saat kenaikan kasus covid-19 varian Delta yang lalu.
 
"Jadi memang kasus pandeminya masih menonjol atau sangat tinggi, namun jumlah implikasi dari kematiannya jauh lebih rendah. Tapi tentu ini tidak membuat kita terlena, kita tetap hati-hati dan terus memberikan perhatian yang penuh," kata dia, dalam video conference, Selasa, 22 Februari 2022.
 
Dengan kasus aktif di Indonesia saat ini yang mencapai 530 ribu, angka kematian saat ini berada di sekitar 174 jiwa dibandingkan dengan saat varian Delta yang mencapai 2.069 jiwa. Sementara keterisian rumah sakit, data saat ini di Wisma Atlet jumlah tempat tidur yang terpakai hanya 35,6 persen atau telah mengalami penurunan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini kita harapkan tren yang dalam hal ini membaik akan bisa terakselerasi. Kasus Omicron dan pandemi memang akan terus membayangi semua negara di dunia. Makanya banyak negara yang masih struggle belum mencapai tingkat PDB riilnya sebelum terjadi pandemi," ungkapnya.
 
Sri Mulyani menambahkan, saat ini Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang beruntung baik itu di lingkungan G20 maupun ASEAN 6 yang sudah mencapai pre-covid PDB level. PDB riil Indonesia tercatat sudah mencapai 101,6 atau 1,6 persen di atas PDB pada saat pre-covid.
 
"Kondisi-kondisi seperti ini akan menyebabkan masing-masing negara mempunyai porsi policy berbeda-beda. Ini yang disebut pemulihan ekonomi tidak merata, ada yang tertinggal, dan ada yang sudah kuat," pungkas dia.

 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif