Metrotvnews.com, Jakarta: Perdana Menteri Kerajaan Inggris David Cameron mengungkapkan, Indonesia berpotensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Menurutnya, pada 2030 ekonomi Indonesia akan masuk tujuh besar di dunia.
“Indonesia juga merupakan mitra utama bagi Inggris," ujar Cameron.
Karena estimasi tersebut, selama ini Inggris banyak menanamkan modal di Indonesia. Inggris merupakan negara terbesar kelima yang berinvestasi di Indonesia.
Pada lawatan yang dilakukan Presiden Joko Widodo pekan ini, Indonesia mendapatkan komitmen investasi dari Inggris sebesar USD19,02 miliar atau sekitar Rp237 triliun.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani menjelaskan, ada 12 kesepakatan bisnis yang dijalin pengusaha Inggris dengan Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat tiga investor yang akan memperluas bisnisnya, lima perusahaan menandatangani komitmen investasi, serta empat perusahaan menandatangani nota kesepahaman dengan mitra lokalnya di Indonesia.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi yang akan dilakukan antara lain Jardine Matheson untuk perluasan investasi di sektor otomotif, infrastruktur, barang konsumsi, dan properti senilai USD7,5 miliar, Unilever untuk perluasan investasi produk konsumer senilai USD500 juta, Glaxo Smith Kline untuk perluasan investasi farmasi senilai USD13,1 juta.
Selain itu, NV Vogt UK Ltd, untuk investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) senilai USD200 juta, HSBC untuk perluasan dan pengintegrasian Bank Ekonomi senilai USD1,2 miliar, dan Nuovito untuk investasi pengelolaan sampah sebagai penunjang industri migas senilai USD100 juta.
Country Director Asian Development Bank Steven R Tabor sebelumnya mengatakan, ekonomi Indonesia akan menjadi leader di kawasan Asia. Salah satu indikasinya bisa dilihat dari besarnya dana asing yang masuk ke dalam negeri.
Lembaga keuangan Asia itu memperkirakan, ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih dari lima persen pada kuartal pertama tahun ini. Dua faktor pendorong utamanya adalah investasi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Dalam analisanya, ada dua faktor penyebab naiknya realisasi investasi Tiongkok di Indonesia dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pertama, industri di Negeri Panda itu sudah melebihi kapasitas.
Kedua, prospek bisnis di Indonesia mulai meningkat. “Kalau sebelumnya ada capital out flow dari Tiongkok, lalu ada capital in flow di Indonesia. Ini minat investor yang paling tinggi dalam sejarah Indonesia,” ujar Tabor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News