Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Pemerintah Ungkap Kendala Belanja Modal Tumbuh di Bawah 5%

Ekonomi kementerian keuangan belanja negara RAPBN 2020
Eko Nordiansyah • 27 Juni 2019 16:28
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan kendala pertumbuhan belanja modal yang rata-rata sejak 2014 sampai 2019 hanya 4,1 persen. Padahal sejak 2015, pemerintah mulai mengalihkan belanja untuk subsidi energi untuk belanja produktif.
 
Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani mengatakan pemindahan belanja subsidi untuk belanja produktif merupakan langkah awal bagaimana pemerintah menyusun belanja modal. Namun demikian, pemerintah perlu menyeimbangkan anggaran dengan kemampuan fiskal.
 
"Satu sisi penerimaannya berapa cepat bisa naik. Kedua, belanja ini kan kita juga butuh untuk belanja-belanja yang memang harus dipertimbangkan, kita danai," kata dia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, belanja modal untuk pembangunan infrastruktur biasanya dianggarkan dalam beberapa tahun (multiyears). Dengan demikian, anggaran belanjanya tidak dilakukan dalam satu tahun sehingga pertumbuhannya tidak terlihat tinggi.
 
"Belanja modal ini polanya adalah khusus infrastruktur besar itu butuh waktu, multiyears ya. Kadang-kadang bangunnya lebih dari satu tahun. Seperti jalan, kereta api, irigasi dan sebagainya itu butuh waktu panjang. Jadi sebenarnya pendanaan itu bukan setahun tapi dalam lima tahun," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan alokasi belanja modal juga tidak semudah alokasi belanja lainnya. Misalnya saja untuk pembangunan infrastruktur, anggaran belanja modal baru bisa direncanakan ketika lahannya sudah ada sehingga pencairan anggarannya bisa dilakukan segera.
 
"Dia (belanja modal) harus ada administrasinya selesai, perencanaannya juga matang, dan kadang-kadang dibutuhkan lebih dari setahun. Makanya kadang-kadang harus dikontrakkan lagi. Itu tantangannya," pungkasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif