Ilustrasi Aktivitas Ekspor-Impor. Foto: MI
Ilustrasi Aktivitas Ekspor-Impor. Foto: MI

Waspada!, BPS: Sinyal Windfall Profit Berakhir

M Ilham Ramadhan • 15 Agustus 2022 20:08
Jakarta: Pelambatan kinerja ekspor Indonesia berpotensi terjadi, jika harga sejumlah komoditas unggulan di level global kembali ke kondisi normal. Pasalnya, tren menunjukkan volume ekspor Indonesia cenderung stagnan.
 
"Windfall ini bisa berakhir, jika harga komoditas kembali normal. Volume ekspor komoditas utama Indonesia cenderung stagnan," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers, dilansir Media Indonesia, Senin, 15 Agustus 2022.
 
Ia menjelaskan, windfall profit dari kenaikan harga komoditas unggulan awalnya mengerek kinerja ekspor dan neraca dagang Indonesia selama 27 bulan terakhir. Namun, belakangan pasar global mulai mengindikasikan terjadinya normalisasi harga komoditas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada Juli 2022 misalnya, nilai ekspor komoditas minyak kelapa sawit dan feronikel mengalami penurunan. Melambatnya kinerja ekspor komoditas unggulan, lanjut dia, dinilai sebagai sinyal agar Indonesia waspada.
 
"Ini perlu diwaspadai terhadap neraca dagang kita di bulan-bulan ke depan," pungkas Setianto.
 
Baca juga: BPS: Penurunan Harga CPO Sinyal Berakhirnya Rezeki Nomplok Komoditas
 
Berdasarkan data BPS, kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2022 mencapai USD25,57 miliar. Nilai itu lebih rendah dari capaian Juni 20222, yakni USD26,15 miliar, atau turun 2,2 persen.
 
Penurunan kinerja secara bulanan itu disebabkan oleh melambatnya capaian ekspor migas dan nonmigas. Ekspor migas pada Juli 2022 tercatat menurun 11,24 persen (month to month/mtm) hingga menjadi US$1,38 miliar. Ini diakibatkan oleh penurunan nilai ekspor minyak hingga 60,06 persen (mtm) dan penurunan volume ekspor minyak mentah sebesar 60,82 persen (mtm).
 
Sementara itu, ekspor nonmigas mengalami penurunan 1,64 persen, atau menjadi USD24,2 miliar. Penurunan ini disebabkan turunnya ekspor besi dan baja 11,51 persen (mtm). Lalu, nikel 15,53 persen (mtm), timah serta turunannya 54,02 persen (mtm), berikut kapal perahu dan struktur terapung hingga 82,30 persen (mtm). 

 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif