Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Kebijakan Moneter BI Tidak Bergantung The Fed

Ekonomi bank indonesia bi rate suku bunga the fed repo
Eko Nordiansyah • 17 November 2018 14:54
Solo: Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan moneter termasuk penyesuaian suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate yang ditempuh tidak hanya bergantung pada langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed saja. Dalam hal ini, BI memiliki pandangan tersendiri dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian dari sisi moneter.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, jika BI menaikkan suku bunga acuan bulan ini bukan berarti mendahului apa yang akan dilakukan the Fed pada bulan depan. Kalaupun Fed Fund Rate (FFR) kembali dinaikan pada Desember 2018, bukan berarti BI harus mengikutinya.

"Kembali kami di Desember tidak ada head to head dengan Fed. Kami melihat keseluruhan data secara makro. Jadi apapun yang terjadi, saya tidak pernah mengatakan FFR naik besok, BI mengawali dengan naik hari ini, tidak pernah. BI melihat dari data dependence," kata dia, di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 17 November 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Dirinya menjelaskan keputusan menaikkan BI 7 Days Reverse Repo Rate dari 5,75 persen menjadi enam persen bulan ini karena kondisi dalam negeri. Kondisi itu di antaranya adalah defisit transaksi berjalan yang melebar, ditambah defisit neraca perdagangan yang cukup besar di Oktober lalu. "Dengan suku bunga yang kita naikan membuat attractiveness pasar keuangan domestik agar lebih baik sehingga interest differential lebih lebar dan menarik modal masuk. Hal ini membuat Current Account Deficit (CAD) tidak besar sehingga bisa membantu cadangan devisa kita," jelas dia.

Hingga kuartal III-2018, defisit transaksi berjalan meningkat sejalan dengan menguatnya permintaan domestik. Defisit transaksi berjalan tercatat USD8,8 miliar atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar USD8 miliar atau 3,02 persen PDB.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Oktober 2018 defisit USD1,82 miliar, dipicu impor yang meningkat 20,60 persen atau USD17,62 miliar. Peningkatan impor menyebabkan defisit sektor migas sebesar USD1,43 miliar dan sektor nonmigas USD0,39 miliar.


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi