Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Ruang Penurunan Tarif PPh Terbuka Lebar

Ekonomi kenaikan pph pajak
Suci Sedya Utami • 17 Maret 2017 14:48
medcom.id, Jakarta: Indonesia masih memiliki ruang yang besar untuk menurunkan tarif pajak penghasilan (PPh) yang saat ini berada pada level 25 persen.
 
Peneliti pajak dari Danny Darussalam Tax Centre (DDTC) Bawono Kristiaji mengatakan saat ini tren di global tarif PPh memang rendah di bawah tarif yang diterapkan Indonesia.
 
"Kalau bicara ruang itu masih. Di dunia trennya memang turun 20-23 persen," kata pria yang akrab disapa Aji, di Jakarta, Jumat 17 Maret 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu negara yang menerapkan tarif rendah yakni Singapura 17 persen. Namun, kata Aji, Indonesia tidak bisa menurunkan di level kurang dari 20 persen.
 


 
Dia menilai, jika yang ditekankan Presiden Jokowi yang menjanjikan penurunan PPh untuk meningkatkan daya saing dengan Singapura, maka tak akan bisa. Menurut Aji, level playing field Indonesia dan Singapura berbeda.
 
Indonesia selama ini masih mengandalkan penerimaan pajak sebagian besar dari PPh badan. Jika tarifnya diturunkan terlalu ekstrem maka akan menekan penerimaan PPh.
 
"Kecuali kalau komoditas boom lagi tapi kan itu lama," ujar dia.
 
Lagi pula, dirinya memandang penurunan tarif PPh ini masih akan menunggu waktu lama. Sebab, untuk menurunkan tarif dibutuhkan revisi UU PPh terlebih dahulu.
 
"Pastinya kalau bicara itu pasti dengan UU PPh. Tidak bisa pakai PMK. Baru bisa dibahas tahun depan. Dua tahun lah baru bisa diterapkan," jelas dia.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif