"Kan sudah masuk tahun anggaran 2015, jadi enggak bisa pakai anggaran 2014 lagi," ucap Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang P.S Brodjonegoro, di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (19/12/2014).
Pasalnya, dalam pengajuan APBN 2015 yang menyusun yakni pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di mana di dalamnya belum memasukkan program-program kerja pemerintah Kebinet Kerja.
"Ya, ini kan masih outlook, masih perkiraan. Finalnya belum," kata dia singkat.
Melihat perkembangan ekonomi yang terjadi saat ini, kata Bambang, yang menunjukkan adanya penurunan harga minyak dunia yang terpental jauh dan juga pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp12.900 per USD, bukan tidak mungkin bakal mengganti asumsi sebelumnya.
"Kita masih menggunakan (melihat harga minyak dunia USD95, waktu itu kita tidak tahu kalau harga minyak akan turun, jadi kemungkinan akan di bawah USD95," terang Bambang.
Bambang menjelaskan, selain rupiah dan harga Indonesia Crude Price (ICP) yang diubah, asumsi lainnya seperti pertumbuhan, inflasi, lifting akan tetap sama.
"Yah kira-kira yang paling menentukan itu (rupiah dan ICP). Nanti kita lihat," ucapnya.
Seperti diketahui, sebelumnya dalam APBN 2014 rupiah dan harga ICP masing-masing diasumsikan yakni Rp11.900 per USD dan USD105 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News