Menggali Potensi Ekonomi Syariah Indonesia
Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Anwar Bashori. Medcom/Eko N.
Solo: Bank Indonesia (BI) menilai potensi ekonomi syariah di Indonesia begitu besar untuk bisa terus berkembang. Sayangnya para pelaku maupun pengambil kebijakan seakan berjalan masing-masing, sehingga membuat potensi ekonomi syariah terbilang kecil.

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Anwar Bashori mengatakan ekonomi syariah sebenarnya bukan hal baru bagi Indonesia. Seolah berjalan sendiri-sendiri, ekonomi syariah yang ada tidak bisa saling terhubung untuk membentuk potensi dalam ekonomi nasional.

"Kalau dikatakan potensi, bukan potensi, sebenarnya sudah jalan. Cuma kita belum me-link saja. Seperti tadi saya katakan, usaha syariah di Indonesia sudah banyak cuma kita belum bisa menata artinya belum tercatat," kata dia di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 17 November 2018.

Dirinya menambahkan, usaha makanan yang tidak mengandung produk haram sebenarnya sudah masuk dalam golongan ekonomi syariah. Oleh karena itu, BI memperkirakan ada 40 persen dari aktivitas ekonomi nasional, yang tergolong dalam ekonomi syariah.

Melihat potensi ini, BI menginisiasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bekerja sama dengan pemerintah. Saat ini sudah ada Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang sedang menyusu  peta jalan (roadmap) untuk meningkatkan potensi ekonomi keuangan syariah di Indonesia.

"Roadmap itu masih dalam penyusunan oleh KNKS dalam hal ini Bappenas. Harapannya nanti akan dibahas di dewan pengarah ada BI, OJK, Bappenas dan yang lain. Itu (roadmap) akan jadi produk top down acuan untuk kita mengembangkan, artinya mengakselerasi," jelas dia.

Bank sentral telah mengusulkan tiga pilar yaitu, penguatan ekonomi syariah, penguatan sektor keuangan syariah untuk pembiayaan, dan penguatan riset, asesmen, dan edukasi. Ketiga pilar ini diharapkan bisa menggembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Anwar menjelaskan, pilar pertama yaitu pemberdayaan ekonomi syariah dilakukan dengan pengembangan halal value chain didukung oleh pilar kedua yaitu pembiayaan syariah. Hal ini bisa dilakukan melalui lembaga keuangan komersil seperti bank syariah, lembaga sosial syariah, atau integrasi keduanya.

"Makanya di Festival Syariah (Fesyar) itu ada business matching untuk sarana mempertemukan usaha syariah di Indonesia. Karena sekarang belum ada database yang utuh, berapa jumlah usaha syariah di Indonesia. Ini kita mulai business matching mengundang pelaku usaha, UKM, korporasi, termasuk dari pesantren," ungkapnya.

Tak hanya itu, BI juga akan menggelar event tahunan yaitu Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Desember mendatang. Pelaksanaan ISEF ke-5 tahun akan difokuskan pada penguatan pertumbuhan ekonomi nasional melalui penciptaan halal value chain di sektor ekonomi dan keuangan syariah.

"Harapannya begitu ada business matching itu kita buat database kemudian kita tata ulang dan jadi beberapa program untuk kita monitor terus untuk periode ke depan. Jangan sampai sudah business matching, tahun depan enggak tahu mau ngapain, realisasinya seperti apa," pungkasnya.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id