Ekonomi Indonesia. Foto: MI.
Ekonomi Indonesia. Foto: MI.

Ruang Downgrade Ekonomi Indonesia Semakin Terbatas

Arif Wicaksono • 07 April 2026 09:52
Ringkasnya gini..
  • Dalam dua dekade terakhir, Indonesia hanya mengalami dua kali revisi prospek oleh S&P, yakni pada 2013 dan 2020. Di luar periode pandemi, pola yang muncul cukup konsisten: pasar cenderung melakukan penyesuaian ketika tekanan tidak direspons dengan kebijakan struktural yang meyakinkan.
  • Dari sisi nilai tukar, rupiah berpotensi melemah tambahan sekitar 4%–5% dalam tiga bulan setelah revisi outlook, melanjutkan depresiasi yang sudah terjadi sebelumnya.
Jakarta: Persepsi terhadap Indonesia di mata pasar global belakangan cenderung memburuk. 
Serangkaian perkembangan negatif membuat profil risiko Indonesia terlihat lebih menonjol dibandingkan potensi keuntungannya.
 
Perubahan ini dipicu oleh langkah dua lembaga pemeringkat internasional, Moody’s pada Februari 2026 dan Fitch pada Maret 2026, yang sama-sama menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
 
Baca juga:  National Transfer Accounts (NTA) Jadi Metode Mengatasi Maraknya Sandwich Generation                

Kedua lembaga tersebut menyoroti beberapa sumber kekhawatiran utama, mulai dari tekanan pada fiskal, ketahanan cadangan devisa, hingga meningkatnya risiko kewajiban kontinjensi dari BUMN. Situasi ini diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berimbas pada kenaikan risiko di sektor energi dan pada akhirnya menekan kondisi fiskal serta ekonomi domestik.
 
Analis Mirae Asset, Jessica Tasijawa menuturkan jika melihat pengalaman historis, perubahan outlook semacam ini bukan tanpa konsekuensi. 

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia hanya mengalami dua kali revisi prospek oleh S&P, yakni pada 2013 dan 2020. Di luar periode pandemi, pola yang muncul cukup konsisten yakni pasar cenderung melakukan penyesuaian ketika tekanan tidak direspons dengan kebijakan struktural yang meyakinkan.
 
Dari sisi nilai tukar, rupiah berpotensi melemah tambahan sekitar 4%–5% dalam tiga bulan setelah revisi outlook, melanjutkan depresiasi yang sudah terjadi sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga berisiko naik sekitar 30–50 basis poin, sementara premi risiko yang tercermin dalam CDS lima tahun dapat melebar lebih jauh.
 
Meski demikian, pertanyaan utama yang muncul adalah apakah kondisi ini akan berujung pada penurunan peringkat kredit. 
 
“Dalam pandangan kami, ruang untuk downgrade masih relatif terbatas. Indonesia diperkirakan tetap mampu mempertahankan peringkat BBB, meskipun dengan outlook negatif,” tegas dia. .
 
Hal ini didukung oleh fundamental ekonomi yang masih cukup solid. Pertumbuhan pada 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 5%, sedikit di bawah proyeksi awal akibat ketidakpastian global. 
 
Berbeda dengan periode sebelumnya yang lebih mengandalkan pelonggaran moneter, kali ini kebijakan fiskal justru menjadi motor utama dalam menjaga pertumbuhan sekaligus meredam dampak guncangan eksternal.
 
Strategi ini tercermin dari percepatan belanja pemerintah, dengan target realisasi yang jauh lebih tinggi pada kuartal pertama 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. 
 
Kenaikan belanja ini diarahkan secara lebih terfokus pada program prioritas yang memiliki efek pengganda terhadap ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah tetap menunjukkan komitmen menjaga disiplin fiskal. Defisit anggaran dijaga agar tidak melampaui batas 3% dari PDB melalui kombinasi kebijakan efisiensi dan optimalisasi penerimaan.
 
Langkah efisiensi terutama difokuskan pada pemangkasan belanja yang tidak prioritas, tanpa mengganggu program-program sosial utama seperti bantuan sosial, subsidi, serta program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan inisiatif kesejahteraan lainnya. Bahkan, jumlah penerima manfaat MBG diproyeksikan melonjak signifikan pada 2026.
 
Upaya efisiensi ini diperkirakan mampu menghasilkan penghematan ratusan triliun rupiah, dengan kontribusi terbesar berasal dari pengurangan belanja kementerian dan lembaga. Tambahan ruang fiskal juga diharapkan datang dari optimalisasi belanja lain serta pengelolaan restitusi pajak yang lebih baik.
 
“Dalam skenario yang lebih berat, misalnya jika harga minyak melampaui USD100 per barel dan memperlebar defisit, kombinasi langkah-langkah tersebut dinilai cukup untuk menjaga keseimbangan fiskal tetap dalam batas aman. Dengan kata lain, risiko fiskal masih dapat dikelola dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga,” tegas dia. 
 
Dari perspektif investor, kondisi ini justru membuka peluang. Obligasi pemerintah Indonesia saat ini dinilai berada pada level yang menarik untuk mulai diakumulasi. Risiko penurunan peringkat yang terbatas, ditambah dengan kuatnya permintaan domestik, menjadi faktor penopang utama.
Imbal hasil obligasi diperkirakan bergerak stabil di kisaran 6,2%–6,7% sepanjang tahun ini.
 
Bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, yang mencakup pelemahan rupiah, kenaikan yield di atas 7%, serta arus keluar dana asing, dampaknya diyakini tetap terkendali karena Indonesia masih berada dalam kategori investment grade.
 
Yang tak kalah penting, potensi keluarnya investor asing kemungkinan besar akan diimbangi oleh peran investor domestik. Institusi seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun terus meningkatkan kapasitas mereka dalam menyerap surat utang negara, terutama ketika imbal hasil menjadi lebih menarik.
 
Dengan kombinasi faktor tersebut, penyesuaian pasar diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak mengganggu stabilitas secara keseluruhan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pasar obligasi pemerintah Indonesia masih memiliki ketahanan yang cukup kuat di tengah tekanan global.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan