Dalam draf pengajuannya, ada beberapa asumsi makro yang akan berubah seperti target inflasi menjadi lima persen, rupiah menjadi Rp12.200 per USD, tingkat suku bunga SPN 3 bulan menjadi 6,2 persen, lifting minyak menjadi 849 ribu barel per hari, lifting gas 1.170 ribu barel per hari setara minyak, dan harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) menjadi USD70 per barel mengikuti perkembangan minyak dunia.
Adapun dalam APBN 2015, rupiah diasumsikan di angka Rp11.900 per USD, inflasi 4,4 persen, tingkat suku bunga SPN 3 bulan 6,0 persen, ICP USD105 per barel, lifting minyak 900 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.248 ribu barel per hari setara minyak.
"(Rupiah) kita lihat ini masih ada diskusi dengan DPR, pokoknya kita cari yang realistis. Kalau dulu bahaya karena masih ada subsidi BBM. Sekarang, kalau pun dolar AS meleset, pasti ada efeknya. Tapi secara magnitude, anggaran enggak seberat dulu," terang Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, dalam bincang-bincang bersama wartawan, di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2015).
Sementara, untuk asumsi pertumbuhan pemerintah masih yakin menaruh target 5,8 persen tahun ini. Ekonom UI ini berharap, APBNP 2015 akan dibahas secapatnya, dikarenakan masa sidang DPR hanya lima minggu.
"Apalagi APBNP ini ada batasan sebulan setelah diterima DPR harus diselesaikan," kata dia.
Terutama, lanjut Bambang, masalah nomenklatur lembaga yang baru, pisah, gabung, berubah itu harus dikomunikasikan dengan komisi-komisi yang bersangkutan agar paling tidak APBNP 2015 itu bisa dieksekusi sebelum bahas perubahan anggaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News