Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: dok AFP
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: dok AFP

Juli 2020, Anggaran Negara Defisit Rp330,2 Triliun

Ekonomi Virus Korona Sri Mulyani defisit anggaran APBN 2020
Eko Nordiansyah • 25 Agustus 2020 11:40
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp330,2 triliun hingga Juli 2020. Defisit APBN ini setara dengan 2,01 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan defisit terjadi karena pendapatan negara tercatat hanya Rp922,2 triliun, sedangkan belanja negara pada saat yang sama sudah mencapai Rp1.252,4 triliun. Hal ini menyebabkan kenaikan defisit hingga 79,5 persen dibandingkan tahun lalu.
 
"Ini menggambarkan bahwa APBN kita penerimaan mengalami tekanan, belanja naik akibat covid-19. Oleh karena itu dampaknya terhadap defisit APBN akan sangat besar," kata dia dalam videoconferencedi Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika dirinci, pendapatan negara sampai dengan Juli setara 54,3 persen terhadap target dalam Perpres 72 Tahun 2020 yang sebesar Rp1.699,9 triliun. Pendapatan negara ini mengalami pertumbuhan negatif 12,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
 
Adapun penerimaan negara terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp601,9 triliun atau 50,2 persen dari target Rp1.198,8 triliun, penerimaan bea cukai Rp109,1 triliun atau 53 persen dari target Rp205,7 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp208,8 triliun, serta penerimaan hibah Rp2,5 triliun.
 
"Untuk penerimaan pajak, darigrowthdibandingkan tahun lalu adalah negatif 14,7 persen. Ini lebih dalam dari yang kami perkirakan. Dan ini adalah sesuatu yang harus kita perhatikan dari sisi faktor-faktor penerimaan pajak tersebut," ungkap dia.
 
Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat baru 45,7 persen dari target dalam Perpres 72 sebesar Rp2.739,2 triliun. Belanja negara mengalami pertumbuhan 1,3 persen dibandingkan dengan realisasi pada Juli 2019 lalu.
 
Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp793,6 triliun, yaitu untuk belanja kementerian/lembaga (K/L) Rp419,6 triliun dan belanja non K/L Rp374 triliun. Sri Mulyani menjelaskan belanja non K/L mengalami kenaikan seiring kebutuhan untuk penanganan covid-19.
 
"Karena banyak program-program PEN memang dimasukan di dalam pos belanja non K/L. Jadi ini yang menyebabkan belanja non K/L kita mungkin nanti akan mengalami kenaikan. Kalau dilihat posnya itu Rp1.138,9 triliun naik luar biasa dari tahun lalu yang hanya Rp778,9 triliun," jelasnya.
 
Untuk transfer ke daerah tercatat Rp410,9 triliun atau 59,3 persen dari target Rp692,7 triliun, sedangkan dana desa Rp47,9 triliun atau 67,3 persen dari target Rp71,2 triliun. Realisasi dana desa tumbuh 50,7 persen dibandingkan tahun lalu, sementara transfer ke daerah tumbuh negatif 5,1 persen.
 
Demi menutup defisit anggaran, pemerintah melakukan pembiayaan anggaran sebesar Rp503 triliun atau 48,4 persen dari target Rp1.039,2 triliun. Dengan demikian, masih ada kelebihan anggaran sebesar Rp172,8 triliun hingga Juli 2020.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif