Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - - Foto: dok BI
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - - Foto: dok BI

BI: Lembaga Internasional Percaya Indonesia Mampu Jaga Stabilitas Makroekonomi

Ekonomi Bank Indonesia standard and poor komoditas Ekonomi Indonesia Rusia-Ukraina Inflasi Global
Husen Miftahudin • 28 April 2022 11:56
Jakarta: Lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) meningkatkan outlook Indonesia menjadi stabil dari sebelumnya negatif. S&P juga mempertahankan peringkat Republik Indonesia pada BBB (Investment Grade) pada 27 April 2022.
 
"S&P sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB/outlook negatif pada 22 April 2021," tulis S&P dalam laporannya yang dikutip Kamis, 28 April 2022.
 
Menanggapi keputusan S&P tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan afirmasi rating Indonesia disertai dengan revisi outlook menjadi stabil tersebut menunjukkan pemangku kepentingan internasional tetap memiliki keyakinan yang kuat atas terjaganya stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Keyakinan tersebut semakin menguat di tengah peningkatan risiko global yang berasal dari tensi geopolitik Rusia-Ukraina, perlambatan ekonomi global, dan peningkatan tekanan inflasi," ucap Perry.
 
Menurutnya, peningkatan kepercayaan lembaga internasional ini didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah.
 
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional," tegasnya.
 
Dalam laporannya, S&P menilai fiskal Indonesia telah menunjukkan kemajuan untuk kembali ke level defisit fiskal yang moderat. Pada 2021, pemerintah telah berhasil menurunkan defisit fiskal menjadi 4,7 persen dari PDB, jauh lebih baik dari defisit fiskal sebesar 6,1 persen dari PDB pada 2020.
 
S&P memproyeksikan defisit fiskal akan terus menurun menjadi empat persen dari PDB pada 2022, didukung oleh kenaikan penerimaan sejalan dengan harga komoditas yang meningkat dan kegiatan ekonomi domestik yang kembali normal.
 
S&P juga menyatakan utang pemerintah Indonesia relatif stabil pascapeningkatan yang cukup signifikan pada 2020. Namun, beban bunga berpotensi akan mencatat peningkatan seiring dengan tren kenaikan suku bunga global selama satu hingga dua tahun ke depan.
 
Bank Indonesia juga dinilai telah berperan signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meredam dampak gejolak ekonomi dan keuangan terhadap ekonomi domestik.
 
"Dukungan Bank Indonesia dalam pembiayaan defisit fiskal melalui pembelian surat berharga pemerintah, dapat membantu pemerintah mengelola beban bunga ketika pasar keuangan sedang mengalami tekanan," pungkas S&P.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif