Kuartal II-2018

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp4,3 Miliar

Ilham wibowo 10 Agustus 2018 19:48 WIB
neraca pembayaran indonesia
Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp4,3 Miliar
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Yati Kurniati (kedua dari kanan) (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut catatan surplus transaksi modal dan finansial belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan. Efeknya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) harus defisit pada kuartal II-2018 sebesar USD4,3 miliar.

"Pada kuartal II-2018 neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan defisit sebesar USD4,3 miliar," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, dalam sebuah jumpa pers, di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018.

Ia menyebut surplus transaksi modal dan finansial meningkat sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik. Transaksi modal dan finansial pada kuartal II-2018 tercacatat surplus USD4,0 miliar atau lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang surplus sebesar USD2,4 miliar.

Surplus investasi lainnya juga meningkat terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri. "Surplus transaksi modal dan finansial terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus," paparnya.

Dirinya mengatakan perkembangan nilai tersebut membuat posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

"Ke depan, kinerja NPI diperkirakan masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal," ujarnya.

Meski demikian, defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprediksi masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sejumlah langkah telah ditempuh pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor via peningkatan substitusi impor.

Sektor pariwisata daerah wisata prioritas juga diperkuat untuk mendukung neraca transaksi berjalan. BI, kata Yati, juga terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI antara lain ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia.

"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id