Tiga Pelajaran Penting Ekonomi RI 2018
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - - Foto: Antara/ Puspa Perwitasari
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan 2018 sebagai tahun yang penuh tantangan. Namun, Indonesia beruntung lantaran memiliki ketahanan cukup kuat dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Setidaknya perjalanan ekonomi di tahun ini memberikan tiga pelajaran penting untuk melangkah ke tahun berikutnya. Pertama, stabilitas dan ketahanan perekonomian perlu terus diperkuat. 

Sejarah perekonomian nasional sejak kemerdekaan menunjukkan periode boom and burst. Hal ini sering berkaitan erat dengan tidak prudennya kebijakan moneter, perbankan dan fiskal. 

Naik turunnya ekspor yang beriringan dengan siklus harga komoditas dunia, ataupun tidak terkendalinya perkembangan sektor properti dan utang luar negeri. 

"Karena itu, kita harus memastikan infasi tetap rendah, nilai tukar Rupiah stabil, defisit fiskal rendah, dan stabilitas sistem keuangan terjaga. Lebih dari itu, defisit transaksi berjalan perlu kita turunkan dan kendalikan ke dalam batas yang aman, yaitu tidak lebih dari 3 persen PDB," kata Perry dalam pertemuan tahunan BI, di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 27 November 2018.

Kedua, daya saing dan produktivitas harus terus ditingkatkan untuk mendorong momentum pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Perry bilang Indonesia harus mampu beralih dari ketergantungan pada ekspor komoditas primer ke manufaktur dan pariwisata. 

Selain itu, meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri untuk menekan impor, serta mendorong lebih banyak investasi langsung baik dari dalam maupun luar negeri. Penguatan struktur ekonomi nasional perlu terus dilakukan melalui hilirisasi industri untuk peningkatan nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, baik sektor pertambangan, perkebunan, pertanian maupun perikanan.

"Industri manufaktur di bidang otomotif, elektronika, tekstil, dan alas kaki perlu didorong untuk peningkatan ekspor dengan memanfaatkan global and regional supply chains," ungkap dia.

Ketiga, sinergi kebijakan antarotoritas menjadi kunci dalam upaya untuk memperkuat struktur ekonomi nasional. Sementara kebijakan moneter, fiskal dan sektor keuangan diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Di sisi lain, sistem keuangan, kebijakan reformasi stuktural di sektor riil perlu terus diperluas dan dipercepat untuk meningkatkan daya saing, produktivitas, investasi, perdagangan, ketenagakerjaan, dan kepastian hukum.

"Perbaikan iklim usaha dan iklim investasi perlu didorong melalui On-line Single Submission (OSS) dan akselerasi efisiensi birokrasi di pusat maupun daerah. Pembangunan infrastruktur yang telah berhasil meningkatkan konektivitas selama ini perlu diperluas dan diarahkan pula untuk mendorong pengembangan kawasan ekonomi dan pariwisata," jelas Perry.








(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id