Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Tsunami Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok, Bagaimana Efeknya ke Indonesia?

Angga Bratadharma • 24 Januari 2023 11:29
Jakarta: Memasuki awal 2023, Tiongkok dilaporkan terus alami lonjakan kasus virus korona tak lama setelah melonggarkan strategi ketat nol-covid. Pemerintah Tiongkok melonggarkan kebijakan tersebut pada 7 Desember 2022 dan mengadopsi strategi hidup berdampingan dengan virus yang diharapkan dapat meningkatkan geliat perekonomian.
 
Namun, setelah kebijakan tersebut dilonggarkan, beberapa kota yang sejak awal bergelut hebat dengan covid-19 justru mengalami penurunan aktivitas ekonomi yang tajam. Hal tersebut semakin mengkhawatirkan karena sebagian populasi Tiongkok juga tidak divaksinasi.
 
Ada sekitar delapan juta warga Tiongkok yang tidak divaksinasi berusia lebih dari 80 tahun dan lebih dari 160 juta lainnya menderita diabetes. Catatan terbaru menunjukkan saat ini hampir 90 persen penduduk di Provinsi Henan atau sekitar 88 juta orang terpapar virus covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya itu, Tiongkok resmi membuka perbatasan internasional mereka pada 8 Januari 2023 yang mengakhiri tiga tahun masa penguncian Tiongkok yang sudah berlangsung sejak Maret 2020. Pembukaan perbatasan juga hanya berselisih hitungan hari dari periode liburan terbesar di Tiongkok yakni Imlek yang jatuh pada 21 Januari 2023.
Baca: 9 Bisnis Online Tanpa 'Modal' yang Bisa Cuan untuk Tahun 2023

Tiongkok resmi membuka perbatasan internasional pada Minggu, 8 Januari 2023 dengan memberikan sejumlah pelonggaran. Di antaranya penghapusan karantina bagi pelancong serta diizinkannya warga Tiongkok bepergian ke luar negeri di mana hal ini menjadi polemik di tengah kondisi Tiongkok yang sedang berperang dengan lonjakan covid-19.
 
Mengantisipasi hal tersebut, sejumlah negara di dunia baik barat maupun Asia lantas memberlakukan pengawasan ketat bagi para pelaku perjalanan dari Tiongkok yang tiba di negara masing-masing. Beberapa negara yang telah mengeluarkan aturan protokol dan pengawasan ketat termasuk Amerika Serikat, Jepang, Italia, Malaysia, dan India.
 
Infeksi diperkirakan terus melonjak hingga akhir bulan ini di mana Tiongkok merayakan Tahun Baru Imlek dengan jutaan orang akan melakukan perjalanan dari berbagai kota besar untuk mengunjungi keluarga mereka di pedesaan. Melihat situasi covid-19 di Tiongkok, IMF menyebut kondisi ekonomi regional dan global akan terdampak selama beberapa bulan ke depan.
 
Pada Oktober lalu, IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dari 2,9 persen menjadi 2,7 persen. Hal ini juga tercermin melalui hambatan yang terus berlanjut dari perang Rusia - Ukraina, tekanan inflasi hingga suku bunga tinggi.
 
Survei World Economics menunjukkan kepercayaan bisnis Tiongkok turun ke level terendah sejak Januari 2013. Survei menunjukkan aktivitas bisnis turun tajam pada Desember 2022 dengan indeks manajer penjualan di sektor manufaktur dan jasa yang keduanya di bawah level 50.
 
Tidak hanya itu, survei secara kuat menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah melambat secara dramatis, dan memungkinkan akan menuju resesi pada 2023. Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Ned Price mencatat ada dampak ekonomi dari penyebaran covid-19 yang merajalela tidak hanya untuk Tiongkok, tetapi dunia yang lebih luas.
 
Menurut Ned Price, investor memang menyambut baik pelonggaran kebijakan nol-covid Tiongkok sebagai kabar baik bagi ekonomi dunia dalam jangka panjang. Namun, banyak yang khawatir akan dampak jangka pendek dari lonjakan kasus itu terhadap perdagangan dan industri secara global.
 
Lantas bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?
 
Dampak paling terasa yang akan muncul adalah terkait perdagangan ekspor-impor. Ketika ekonomi Tiongkok menurun, artinya permintaan komoditas ke Indonesia tentunya juga berkurang. Selain itu, rendahnya permintaan juga bisa berdampak ke dalam negeri, sebab Tiongkok merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok memiliki kontribusi 26,5 persen dari total ekspor untuk periode Januari-November 2022. Sehingga, era tergelap yang dihadapi Tiongkok akan turut menarik Indonesia kedalamnya.
 
CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan tidak dapat dipungkiri lonjakan kasus covid-19 di Tiongkok beberapa waktu belakangan ini memperlambat proses pemulihan ekonomi secara global. Hal ini terjadi karena Tiongkok merupakan sumber ekspor penting bagi industri manufaktur dan juga merupakan pasar penting bagi banyak komoditas global.
 
"Seperti minyak sawit mentah, tembaga, kedelai, batu bara, bijih besi, dan baja," kata Johanna, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 24 Januari 2023.
 
Menjawab kekhawatiran tersebut, tambahnya, negara-negara ASEAN dan juga Indonesia telah cukup menjaga kondisi makroekonomi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pola konsumsi dan tingkat pendapatan. Bank Indonesia (BI) juga terbukti telah melakukan tugasnya untuk menjaga stabilitas struktural rupiah.
 
"Sehingga diharapkan dampak meledaknya covid-19 di Tiongkok terhadap perekonomian bisa berada di level minimum. Hal tersebut juga didukung dengan dilonggarkannya kebijakan zero covid policy dari Pemerintah Tiongkok yang secara tak langsung akan menopang pergerakan nilai tukar rupiah," kata Johanna.
 
Kendati demikian, lanjutnya, pemerintah tetap harus siap siaga mengantisipasi skenario terburuk dalam rangka untuk menstabilisasi pasar dalam negeri dan memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri.
 
"Tidak hanya itu, secara jangka panjang Indonesia harus melihat hal ini sebagai peluang dengan menjangkau pasar ekspor-impor yang selama ini didominasi oleh Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan yang berlebihan," tutup Johanna.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif