Ilustrasi pajak - - Foto: dok MI
Ilustrasi pajak - - Foto: dok MI

Penerimaan Pajak hingga April Minus 3,1%

Ekonomi kementerian keuangan penerimaan pajak APBN 2020
Eko Nordiansyah • 20 Mei 2020 18:52
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat pertumbuhan penerimaan pajak hingga akhir April 2020 mengalami kontraksi 3,1 persen. Penerimaan pajak tercatat baru Rp376,7 triliun atau 30 persen dari target Rp1.254,1 triliun.
 
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan penurunan cukup dalam terjadi pada pajak penghasilan (PPh) migas imbas penurunan harga minyak dunia. Tercatat, realisasi PPh migas baru Rp15 triliun atau 34,3 persen dari target Rp43,7 triliun.
 
"Kalau PPh migas dengan penurunan harga migas cukup dalam, PPh migas terkontraksi 32,3 persen dibanding tahun lalu, pajak nonmigas minus 1,3 persen dibanding tahun lalu," katanya dalamvideo conferencedi Jakarta, Rabu, 20 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Realisasi pajak nonmigas tercatat Rp361,7 triliun atau 29,9 persen dari target Rp1.210,4 triliun. Penurunan sektor ini tak lepas dari menurunnya aktivitas ekonomi karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran covid-19.
 
Penerimaan PPh nonmigas tercatat Rp226,5 triliun atau 34,3 persen dari target Rp659,6 triliun, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp132,8 triliun atau 25,1 persen dari target Rp529,7 triliun, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp0,4 triliun, serta pajak lainnya Rp1,9 triliun.
 
"Komposisi PPN-nya tumbuh tapi kecil sekali hanya 1,9 persen dan pantauan kita dari data transaksi bulan lalu terjadi penurunan transaksi bulan lalu sehingga Mei bisa terjadi kontraksi lebih dalam untuk PPN," jelas dia.
 
Bedasarkan sektornya, penerimaan pajak dari industri pengolahan sebesar Rp108,36 triliun, perdagangan Rp73,92 triliun, jasa keuangan dan asuransi Rp57,88 triliun, konstruksi dan real estat Rp22,52 triliun, pertambangan Rp16,46 triliun, serta transportasi dan pergudangan Rp16,97 triliun.
 
"Perdagangan (tumbuh) negatif karena perlambatan impor dan perlambatan kegiatan perdagangan. Jasa keuangan dan asuransi masih oke karena sektor ini masih terus beroperasi dan ini kita harapkan di sektor jasa keuangan, dia bisa terus bergerak dan menciptakan nilai tambah," pungkasnya.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif