Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Indonesia Lebih Siap Hadapi Resesi Ketimbang Krisis 1998

Ekonomi Ekonomi Indonesia Krisis Ekonomi Resesi Ancam Indonesia 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-Maruf
Antara • 20 Oktober 2020 20:42
Makassar: Pengamat Ekonomi Unismuh DR Abdul Muthalib Hamid mengatakan saat ini Indonesia lebih siap menghadapi resesi jika dibandingkan dengan krisis ekonomi pada 1998.
 
Muthalib menyampaikan hal tersebut dengan merefleksikan setahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo di tengah gonjang-ganjing ekonomi sebagai dampak covid-19.
 
Dia mengatakan krisis moneter 1998 yang dipicu oleh krisis mata uang negara berkembang memang sedikit mirip dengan kondisi saat ini yang mata uang negara berkembang termasuk Indonesia terus mengalami pelemahan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya melihat Indonesia saat ini lebih siap menghadap krisis ekonomi dibanding 1998. Sedang pada 2018 krisis dimulai dari Turki, Argentina dan merembet ke negara berkembang lainnya," katanya, dikutip dari Antara, Selasa, 20 Oktober 2020.
 
Menurut dia, selain nilai mata uang yang terus melemah serta pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami kemunduran dua kuartal berturut turut, hendaknya mewaspadai utang luar negeri yang bisa saja memicu terjadinya resesi.
 
Dia mengingatkan, salah satu penyebab munculnya resesi karena utang luar negeri yang sulit dikembalikan atau dibayar atau dengan kata lain, besaran utang luar negeri tidak sebanding kemampuan cadangan likuiditas APBN dan financial sektor publik untuk membayar utangnya pada saat jatuh tempo.
 
Jika menilik lebih dalam, cadangan devisa Indonesia di 1998 sekitar USD23 miliar, sedangkan hingga pada 2020 pada kisaran USD120 miliar.
 
Sementara pertumbuhan ekonomi 1997-1998 pada level -13 persen, sedangkan saat ini hingga kuartal II di 2020 ekonomi Indonesia berkontraksi pada -5,32 persen.
 
"Kalau kita memperhatikan kondisi utang luar negeri Indonesia saat ini di bawah rezim Jokowi, maka nampaknya utang luar negeri Indonesia pada saat ini jauh lebih membengkak dari 1998," ungkapnya.
 
Kondisi ini dinilai sangat mengganggu karena berpotensi membahayakan apalagi dalam perbaikan sistem keuangan lndonesia. Tidak hanya itu, keadaan ini dapat menjadi indikator dalam mengevaluasi potensi resesi ekonomi Indonesia pada kuartal IV di 2020.
 
Menurut dia, jika resesi terjadi di Indonesia, maka berbagai lini ekonomi akan terpengaruh dan puncaknya akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif