Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

BI: Pasar Keuangan RI Lebih Dipengaruhi Kondisi Global

Ekonomi ekonomi global pasar keuangan
Husen Miftahudin • 28 Mei 2019 14:11
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi eksternal menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan di Indonesia. Meskipun terjadi gejolak pada kondisi di Tanah Air, namun pengaruh ke pasar keuangan Indonesia tak berdampak secara signifikan.
 
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebutkan ada tiga indikator risiko yang diperhatikan investor. Di antaranya adalah credit default swap (CDS), nilai tukar rupiah, dan imbal hasil (yield).
 
Gejolak kondisi di suatu negara berpengaruh pada risiko investasi atau CDS. Hal ini terlihat pada peningkatan eskalasi politik yang berujung kerusuhan pada 21-22 Mei di Jakarta. Angka CDS Indonesia melorot lima hingga tujuh basis points (bps).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Credit Default Swap Indonesia itu sekarang 103, year to date mengalami perbaikan 32 basis points. Memang beberapa hari terakhir sempat memburuk sekitar lima hingga tujuh basis points, tapi bisa dibilang tidak terjadi lonjakan signifikan," ungkap Mirza dalam acara buka puasa bersama media di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin malam, 27 Mei 2019.
 
Sementara per kemarin, nilai tukar rupiah relatif stabil dengan penguatan 0,07 persen. Begitu pula secara year to date (YTD), mata uang Garuda itu menguat 0,07 persen.
 
"Hari ini (Senin, 27 Mei 2019) kan rupiah itu relatif stabil, menguat 0,07 persen sekitar Rp14.375-Rp14.358 (per USD). Spread antara transaksi DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) dan NDF (Non Deliverable Forward) juga bisa dibilang tipis, sekitar 415-475 atau Rp60. Overnight juga sudah kembali di bawah enam persen, 5,73 persen," jelas Mirza.
 
Selain itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun sudah kembali di bawah delapan persen, yakni 7,9 persen. Kondisi itu membuat market masih memperhatikan negosiasi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.
 
"Ini menunjukkan bahwa pada hari 21-22 Mei memang ada sedikit gejolak tapi gejolaknya relatif terkendali di pasar keuangan, utama di pasar valas, pasar uang, dan pasar obligasi dan sekarang sudah back to normal. Kalau sudah back to normal artinya kita kembali lagi melihat kepada faktor utama yang mempengaruhi ekonomi Indonesia. Kalau terutama yang mempengaruhi pasar keuangan Indonesia, ya masih terkait dengan eksternal sebenarnya," tegas Mirza.
 
Menurut Mirza, gejolak kondisi ekonomi eksternal terjadi lantaran pasar keuangan dunia kaget akibat Presiden AS Donald Trump menaikkan bea masuk produk-produk Tiongkok sebesar USD200 miliar. Hal itu membuat pasar keuangan dunia mengalami penurunan kurs, utamanya pada negara-negara berkembang yang terjerat defisit transaksi berjalan atau current acount deficit (CAD).
 
"Kurs-kurs negara berkembang yang memang mengalami CAD itu kurs-nya cenderung melemah. Apalagi kalau China Yuan-nya melemah, berarti negara lain juga mengalami lemah," tuturnya.
 
Hal ini menunjukkan kondisi fundamental Indonesia masih tergantung pada kondisi global. "Jadi kalau situasi politik dan keamanan berangsur-angsur back to normal, berarti kita lihat kondisi fundamental Indonesia yang sekarang masih tergantung pada kondisi global yang terkait dengan ekonomi antara Amerika dan Tiongkok," tutup Mirza.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif