Jakarta: Economist DBS Group Radhika Rao mengatakan sejalan dengan pergerakan harga regional dan global, pasar domestik Indonesia mengantisipasi masa setelah pandemi. Dalam jangka pendek, penilaian ekonomi suram oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) mungkin dapat mematahkan optimisme.
"Aset lokal, terutama rupiah dan obligasi, yang termasuk paling terpukul selama aksi jual pada triwulan pertama, sedang dalam pemulihan berarti pada triwulan kedua," kata Rao, seperti dikutip dari risetnya, Rabu, 17 Juni 2020.
Ia menambahkan rupiah telah memangkas sebagian besar kerugiannya pada awal Juni dan keluar sebagai pemain unggul di kawasan. Namun, penguatan rupiah akan membuatnya rentan terhadap pembelian saham yang telah mencapai titik support dalam jangka pendek. Kondisi global lebih suram juga tidak membantu.
Imbal hasil obligasi berjangka waktu 10 tahun sangat tinggi, masih kata Rao, dibantu oleh kombinasi dukungan aktif bank sentral, kembalinya permintaan oleh bank, dan kembalinya investor asing secara bertahap. Ada kemungkinan gejolak berselang-tenggang di ruang obligasi karena sekarang menjadi lebih jelas obligasi yang akan diterbitkan.
"Namun demikian, jaminan BI untuk secara aktif melakukan intervensi di pasar primer dan sekunder kemungkinan akan mencegah penurunan tajam dalam pergerakan harga obligasi rupiah," tuturnya.
Dengan kemungkinan lebih banyak obligasi diterbitkan, terlepas dari peran penting BI dalam menstabilkan pasar obligasi, investor lokal telah memberikan dukungan terhadap pasar utang rupiah saat investor asing memangkas kepemilikannya.
Perubahan kepemilikan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah antara Mei dan Januari 2020 menunjukkan bahwa bank-bank domestik telah menambah kepemilikan mereka, diikuti oleh BI dan lembaga-lembaga non-bank (kecuali investor portofolio). Pembelian oleh BI di pasar primer telah mencapai Rp26 triliun sejak awal tahun hingga saat ini.
Sementara itu, neraca berjalan dalam neraca pembayaran diperkirakan akan membawa secercah harapan dalam situasi penuh tantangan ini. Ekspor di bawah standar kemungkinan diiringi dengan pelemahan impor, memperkuat neraca perdagangan. Ini berarti neraca berjalan kemungkinan rendah di -1,5 persen dari PDB.
"Cadangan devisa telah beranjak dari titik terendahnya, dan ini membantu meningkatkan cadangan untuk menutupi biaya impor (cadangan vs impor) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat cadangan saat guncangan yang ditimbulkan oleh taper tantrum (efek pengumuman kebijakan moneter AS) pada 2013," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan