REUTERS/Neil Hall
REUTERS/Neil Hall

Inggris Jadi Pusat Perbankan Syariah di Eropa

06 April 2014 10:45
medcom.id, London: Penasihat Kebijakan Keuangan Pemerintah Inggris, Omar Shaikh, menyatakan Inggris kini telah menjadi pusat perbankan Islam di Eropa.
 
"Sistem itu berkembang berkat dukungan politik pemerintah Inggris yang melihat pelaksanaan sistem ini sebagai peluang bisnis," katanya dalam seminar Islamic Finance Management yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Glasgow di University of Glasgow, Scotlandia, Inggris, Sabtu (5/4/2014).
 
Menurut dia, peluang bisnis keuangan syariah di Inggris makin berkembang seiring dengan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah.
 
"Leicester telah terbukti menjadi pusat perbankan terbesar di Inggris. Filosofi keuangan berdasarkan hukum Islam menjadikan sistem ini diminati dan dipercaya banyak orang," kata pria yang pernah bekerja di Ernst and Young ini.

Sistem yang dibangun dengan filosofi Islam memang menekankan keterbukaan dalam pengelolaan perbankan dan lebih rasional dalam mengambil keuntungan bisnis keuangan perbankan. 
 
Sementara itu, Ketua Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR) Glasgow, Nor Basid Adiwibawa Prasetya, mengatakan seminar itu bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang penerapan sistem keuangan syariah di dunia bisnis, khususnya perbankan dan dalam manajemen keuangan keluarga.
 
"Penerapan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dalam masyarakat," katanya dalam seminar yang juga menghadirkan Mohd Hairul Azrin (PhD in Accounting and Finance di  University of Glasgow) dari Brunei Darussalam, Norasikin Hj Salikin, (Corporate Finance PhD candidate in the University of Strathclyde) dari Malaysia, dan Luqyan Tamanni, (PhD candidate di University of Glasgow dengan spesialisasi Islamic micro finance) dari Indonesia.
 
Menurut Mohd Hairul Azrin, sistem ini dibangun oleh pemerintah Brunei Darussalam sebagai Negara Islam dalam sebuah sistem kebijakan Islamic finance, kemudian diberlakukan pada masyarakat.
 
Sementara di Indonesia, sistem ini bergerak dari micro finance kemudian baru naik ke level kebijakan negara yang terjadi di Indonesia. "Di Asia Tenggara, sistem ini berkembang dan stabil karena tidak menerapkan bunga sehingga tahan terhadap krisis," ujar Luqyan.  (Antara)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan