NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi - - Foto: MI/ATET DWI PRAMADIA

AS Mau Kurangi Defisit Perdagangan dengan RI

Ekonomi indonesia-as defisit anggaran Negara Berkembang
Eko Nordiansyah • 27 Februari 2020 21:34
Jakarta: Amerika Serikat (AS) dinilai memiliki tujuan khusus di balik pencabutan status negara berkembang Indonesia. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah AS mengurangi defisit perdagangannya.

"Karena Indonesia memang secara total kita (neraca perdagangan) defisit, tapi saat AS berdagang (dengan Indonesia), kita surplus terus, mereka ini mau kurangi defisitmya," kata Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus menyebut k dia dalam diskusi di ITS, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Heri menambahkan dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan Indonesia selama 2019 sebesar USD3,2 miliar. Meski demikian Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan AS sebesar USD8,5 miliar karena ekspor USD17,7 miliar berbanding impor USD9,3 miliar.
 
Untuk itu, dirinya meminta pemerintah menolak pencabutan status negara berkembang oleh AS. Namun demikian, memang tidak akan mudah untuk 'melawan' keputusan yang telah dibuat AS sehingga dibutuhkan berbagai amunisi yang kuat dan tidak sedikit agar mampu menang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tentu adalah argumentasi yang berlandaskan kajian-kajian atau data-data dan fakta di lapangan yang menunjukkan kita masih negara berkembang. Nah kalau sebagai negara berkembang, maka kita bisa dikecualikan dari negara-negara yang dikenakan bea masuk anti subsidi itu," ungkapnya.
 
Sementara itu, Ekonom Senior Indef Aviliani menyebut langkah AS sebagai proteksi atas pasar domestiknya. Oleh karena itu dibutuhkan diplomasi bilateral yang cukup kuat. Apalagi jika Indonesia kalah dengan AS, bukan tak mungkin negara lain juga akan menerapkan kebijakan yang sama untuk produk Indonesia.
 
"Jadi menurut saya Indonesia ini harus memiliki kemampuan untuk negosiasi agar ekspor kita kena, kita lakukan 'kamu jangan kenakan tapi sebagian produk saya impor dari anda'. Sering kali kita diem saja, sehingga kalau diterapkan maka negara lain bisa juga menerapkan," ujar dia.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif