Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 masih kuat dan terkendali. Pengelolaan fiskal juga dinilai masih berjalan sesuai target atau on track.
Hingga akhir Agustus, pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.055,6 triliun atau sekitar 65 persen dari target. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.295 triliun.
Baca juga: Menkeu Baru Perlu Bikin Kebijakan Lebih Mudah Dibaca Pasar |
Realisasi tersebut membuat APBN mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Suahasil mengatakan kondisi tersebut masih berada dalam batas yang terkendali. Selain itu, keseimbangan primer APBN juga masih tercatat positif.
"Hingga akhir Agustus kinerja APBN itu tetap kuat dengan keseimbangan primer yang positif. Defisit tetap dalam batasan yang terkendali, dan ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track," kata Suahasil dalam tayangan Breaking News Metro TV, Jumat, 18 September 2026.
The Fed Jadi Perhatian
Pemerintah tetap mencermati perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga The Fed. Kenaikan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan dan arus modal global.Suahasil mengatakan pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi agar tekanan dari kondisi global tidak mengganggu momentum ekonomi domestik.
"Memperhatikan apa yang terjadi di global itu menjadi penting untuk kita menyiapkan antisipasi perekonomian Indonesia, dan salah satu antisipasinya adalah antisipasi yang harus dilakukan oleh APBN," ujarnya.
Selain kebijakan moneter AS, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar keuangan bergerak lebih volatil. Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan global sekaligus menjaga APBN tetap menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Ekonomi Indonesia Masih Tahan Banting
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Suahasil menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.Sementara itu, inflasi berada di level 3,19 persen. Menurut Suahasil, kombinasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap terjaga memberikan kepercayaan terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional.
"Kalau kita sudah lihat Indonesia semester I 5,45 persen, lalu kemudian kita dapat angka kemarin inflasi 3,19 persen. Itu adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient," tutur Suahasil.
Menurut dia, ketahanan ekonomi nasional tidak hanya ditopang oleh kebijakan pemerintah. Aktivitas konsumsi masyarakat, transaksi ekonomi, dan investasi juga masih menjadi penggerak penting pertumbuhan.
Aktivitas ekonomi domestik tersebut menjadi salah satu penopang ketika pertumbuhan ekonomi global menghadapi tekanan dan sejumlah negara mitra dagang Indonesia mengalami variasi pertumbuhan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan APBN tetap sehat. Perkembangan ekonomi global juga akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan langkah antisipasi kebijakan fiskal ke depan.