Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama dengan Anggota Dewan Gubernur BI. FOTO: Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama dengan Anggota Dewan Gubernur BI. FOTO: Bank Indonesia

BI Beri Sinyal Peluang Relaksasi Suku Bunga Acuan

Ekonomi bank indonesia bi rate suku bunga repo
Antara • 22 November 2019 08:17
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memberi sinyal masih ada ruang pelonggaran kebijakan moneter termasuk melalui instrumen suku bunga acuan dalam beberapa waktu ke depan, dengan mencermati dinamika perekonomian global dan penyesuaian ekonomi domestik.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan arah kebijakan bank sentral saat ini tetap akomodatif. Sikap akomodatif itu dikatakan Perry setelah bank sentral memilih untuk menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar lima persen pada November 2019.
 
Untuk mengompensasi penahanan suku bunga acuan itu, bank sentral menginjeksi stimulus terhadap perekonomian dengan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah sebanyak 0,5 persen menjadi 5,5 persen di bank umum dan 4,5 persen di bank syariah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Relaksasi GWM sebesar 50 basis poin itu, diklaim Perry, akan mengguyur industri perbankan dengan likuiditas sebanyak Rp26 triliun, yang berlaku mulai 2 Januari 2020. Ke depan, Perry masih membuka ruang relaksasi kebijakan baik melalui instrumen moneter maupun instrumen makroprudensial.
 
"Ke depan, BI akan mencermati ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan akomodatif untuk menjaga jaga inflasi dan stabilitas eksternal serta mendukung momentum pertumbuhan ekonomi. Bentuknya bisa kebijakan moneter, makroprudensial, maupun yang lain-lain," ujar Perry, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 22 November 2019.
 
GWM adalah rasio dari total dana pihak ketiga perbankan yang harus dipelihara oleh perbankan pada saldo rekening BI. Dengan diturunkannya rasio GWM, dana yang disimpan perbankan di BI akan lebih kecil, dan sebaliknya dana yang dapat disalurkan perbankan sebagai kredit ke debitur lebih besar. Penurunan ini diharapkan membuat kredit dapat tumbuh lebih baik.
 
"Sehingga sampai kuartal I/2020 tentu saja tidak perlu khawatir dana itu ditambah dan siap menyalurkan kredit," kata Perry.
 
Kebijakan akomodatif lanjutan juga dimungkinkan karena fundamental ekonomi domestik terjaga. Hal ini tercermin dari inflasi pada Oktober 2019 yang rendah atau sebesar 3,13 persen (year on year/yoy). Laju inflasi itu menurun dibandingkan dengan inflasi September 2019 sebesar 3,39 persen (yoy).
 
Hingga akhir 2019, inflasi diperkirakan BI berada di sekitar 3,1 persen. Inflasi yang rendah, kata Perry, tidak menandakan melemahnya daya beli masyarakat. Sebaliknya, dia berasumsi bahwa inflasi yang relatif terjaga maka akan membuat daya beli masyarakat menguat.
 
Maka itu, dia optimistis pada kuartal IV 2019 permintaan akan tumbuh besar dan mendorong pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2019 mencapai 5,1 persen. "Ke depan, masih ada ruang bauran untuk moneter dan makroprudensial. Kami akan mencermati kedepannya," pungkas Perry.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif