Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Pemerintah Diminta Berhemat untuk Kendalikan Defisit

Ekonomi pertumbuhan ekonomi neraca perdagangan indonesia defisit transaksi berjalan ekonomi indonesia defisit anggaran rapbn 2019
Eko Nordiansyah • 18 Mei 2019 06:33
Jakarta: Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) meminta kepada pemerintah untuk berhemat demi mengendalikan defisit neraca perdagangan maupun defisit transaksi berjalan (CAD). Penghematan bisa dilakukan dengan mengurangi belanja barang, khususnya barang-barang yang didatangkan dari luar negeri.
 
"Menghemat belanja-belanja yang tidak perlu. Untuk apa harus pakai barang berbasis impor pengadaan, kalau dalam negeri kan bisa," kata Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta, di Gedung Kemenko Perekonomian, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat, 17 Mei 2019.
 
Dirinya menambahkan, langkah ini perlu dilakukan dalam rangka menghemat devisa secara tidak langsung. Di samping, lanjutnya, penghematan untuk sektor migas juga perlu dilakukan, mengingat neraca dagang migas defisit sebesar USD1,49 miliar pada bulan lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, pemerintah tetap perlu menggenjot belanja yang bisa mendorong perekonomian. Sebut saja belanja untuk bantua sosial (bansos) dan pegawai yang akan mendorong konsumsi, serta belanja infrastruktur yang bisa mendorong pertumbuhan investasi.
 
Sementara Anggota KEIN Telisa Aulia menilai sektor pariwisata bisa menjadi salah satu 'obat' meredam defisit transaksi berjalan. Selain itu, perbaikan untuk sistem remitansi dari para Pekerja Migran Indonesia (PMI) bisa membuat CAD lebih positif lagi kedepannya.
 
"Cara cepat adalah pariwisata dan remitansi. Remitansi ini bocor karena TKI ini mengirimnya pakai bank asing, jadi enggak tercatat di lalu lintas pembayaran kita. Sedangkan pariwisata itu yang menopang (transaksi jasa dalam CAD) kita untuk positif," kata dia.
 
Menurutnya, pemerintah tidak bisa bergantung pada aliran modal masuk (capital inflows) karena volatilitasnya yang tinggi. Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) juga tidak bisa melulu bergantung pada suku bunga yang menarik demi menarik inflows.
 
"Kalau kita tergantung capital flows, suku bunga jadi dilema. Karena kita mau entertain capital flows dengan tingginya suku bunga. Jadi suku bunga kita terus menerus terpenjara. Di kuartal I ada perbaikan tapi persistence defisitnya," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif