Muhammad Chatib Basri. Foto : AFP.
Muhammad Chatib Basri. Foto : AFP.

Chatib Basri Sarankan Belanja Pemerintah Tetap Kencang Demi Perekonomian

Ekonomi pertumbuhan ekonomi belanja negara
Eko Nordiansyah • 10 Desember 2019 19:43
Jakarta: Wakil Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Muhamad Chatib Basri menilai belanja pemerintah seharusnya tetap digenjot demi mendorong perekonomian. Sayangnya, pemerintah justru ingin menghemat belanja agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 
"Kalau pepatah hemat pangkal kaya, tapi kalau belanja pangkal kaya. Kalau bapak ibu belanja terus, itu aktivitas ekonomi akan jalan. Kemudian kalau belanja, akan ada permintaan, dunia usaha akan respons dengan produksi dan ekonomi jalan," kata Chatib yang merupakan akademisi dan mantan menteri keuangan ini, saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019.
 
Di sisi lain penerimaan pajak memang mengalami penurunan pertumbuhan sehingga memaksa pemerintah untuk menghemat anggaran. Penerimaan pajak ini merupakan imbas dari harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan batu bara yang belum membaik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau melihat dalam kondisi ini tidak banyak ruang melakukan ekspansi fiskal kecuali Pak Askolani (Dirjen Anggaran) mengizinkan anggara defisitnya naik dari 1,8 persen jadi 2,2 persen. Sebetulnya menurut pandangan pribadi saya sampai 2,5 persen enggak apa-apa karena untuk dorong belanja," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan, defisit anggaran yang melebar membuat pemerintah harus menerbitkan surat utang (bond) lebih banyak. Namun, jika ini dilakukan, akan ada persaingan antara pemerintah dengan perbankan utamanya bagi bank dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK). Akibatnya, penyaluran kredit melemah.
 
Chatib menjelaskan, dengan imbal hasil (yield) bond antara delapan sampai dengan 8,5 persen atau di atas rata-rata bunga deposito yang sekitar tujuh persen, kondisi ini tentu akan menguntungkan para pemegang bond.
 
"Saya tidak mau bilang mereka dapat besar, itu sebetulnya cerminan dari currency risk-nya masih ada. Ini yang mesti kita lebih jauh, jadi kalau currency risk dikecilin mungkin yield bond bisa lebih rendah sehingga isu crowding out bisa diatasi," pungkasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif