medcom.id, Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan penurunan inflasi secara year on year hingga ke posisi tiga persen dan adanya penurunan defisit transaksi berjalan di level dua persen pada 2015 menunjukkan adanya ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas policy rate pada awal 2016.
Meski demikian, Ekonom LPS Doddy Ariefianto mengatakan, realisasi penurunan suku bunga kali ini akan sangat tergantung pada stabilitas di sektor finansial, terutama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Apalagi, nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir ini terus mengalami tekanan.
"Kami sendiri melihat potensi yang cukup besar bagi BI rate untuk diturunkan pada kuartal I-2016, memanfaatkan kondisi konomi makro yang relatif baik," kata Doddy, seperti dikutip dari laman resmi LPS, di Jakarta, Jumat (8/1/2016).
Akan tetapi, lanjutnya, bila ini terjadi maka LPS melihat ada kemungkinan pembalikan arah suku bunga ke atas pada semester II-2016 sebagai respons atas naiknya gejolak di pasar keuangan. Sumber utama gejolak ini adalah suatu peristiwa yang disebut sebagai triple taper tantrum.
Doddy menjelaskan, peristiwa triple taper tantrum adalah peristiwa di mana Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (BOJ) akan mulai mengurangi, atau setidaknya melempar wacana pengurangan stimulus moneternya saat Federal Reserve (the Fed) berada dalam fase menaikkan suku bunganya.
"Jika ini benar terjadi, rupiah akan mengalami tekanan yang sangat kuat, sehingga BI rate mungkin akan perlu dinaikkan. Melihat hal ini, kami memprediksi BI rate di posisi 7,50 persen pada akhir 2016," pungkas Doddy.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan