Ilustrasi stimulus ekonomi dalam program PEN - - Foto: Medcom
Ilustrasi stimulus ekonomi dalam program PEN - - Foto: Medcom

Program PEN Bantu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 1,36%

Eko Nordiansyah • 08 Februari 2022 17:02
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan ekonomi bisa tumbuh 1,36 persen berkat adanya program PEN.
 
Kepala Center Macroeconomics and Finance Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan dampak program PEN tidak hanya dirasakan dari sisi pertumbuhan ekonomi saja, melainkan konsumsi terkerek 1,07 persen.

 
"Kami coba menghitung kira-kira dampak kebijakan PEN ke pertumbuhan ekonomi berapa persen? Ternyata untuk PEN ini 1,36 persen terhadap GDP, untuk konsumsi 1,07 persen," kata dia dalam video conference, Selasa, 8 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, ada tiga klaster program PEN yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi. Pertama, perlindungan sosial berkontribusi 0,25 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dan 0,12 persen kepada konsumsi.
 
Kemudian kesehatan berkontribusi 0,17 persen ke pertumbuhan ekonomi dan 0,21 persen ke konsumsi. Terakhir adalah insentif usaha yang berdampak bagi pertumbuhan ekonomi 0,11 persen dan konsumsi rumah tangga sebesar 0,27 persen.

 
"Tiga program ini mendongkrak GDP kita. Meski ada klaster program prioritas dan dukungan UMKM yang memberikan dorongan dari sisi konsumsi, tapi sepertinya masih lambat dalam respons. Artinya sistem ekonomi kita lambat merespon kebijakan ini," ungkapnya.
 
Dengan dampak tersebut, Rizal berharap pemerintah bisa lebih fokus dalam menjalankan program PEN tahun ini. Apalagi dengan anggaran yang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, pemerintah diharapkan bisa memaksimalkan PEN untuk program yang benar-benar bisa terealisasi.
 
"Serapan capaiannya hampir sama dari 2020 ke 2021. Oleh karena itu, pemerintah seyogyanya mempercepat PEN 2022 meski nilainya tidak sebesar 2021, hanya Rp455,62 triliun, tetapi harus fokus kira-kira mana klaster yang cepat realisasinya," pungkas dia. 

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif