Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Kemenko Perekonomian
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Kemenko Perekonomian

Airlangga: Surplus Neraca Perdagangan Cetak Rekor Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir

Eko Nordiansyah • 18 Januari 2022 09:34
Jakarta: Kinerja ekspor-impor Indonesia selama 2021 ditutup dengan pencapaian positif pada neraca perdagangan. Pada Desember 2021, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar USD1,02 miliar. Hal ini membawa tren surplus kembali dapat dipertahankan sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut.
 
Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat mencapai USD35,34 miliar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, nilai surplus tersebut merupakan rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006, yang mengalami surplus mencapai USD39,37 miliar.
 
"Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini," kata dia, dalam keterangan resminya, Selasa, 18 Januari 2022.

Surplus sepanjang 2021 ditopang oleh ekspor yang mencapai USD231,54 miliar atau tumbuh 41,88 persen (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk CPO, berhasil mendorong performa ekspor Indonesia. Pasalnya ekspor komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) mencapai USD32,83 miliar atau meningkat 58,48 persen (yoy) selama tahun lalu.
 
Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia, dengan pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) mampu tumbuh sebesar 58,89 persen (yoy) menjadi sebesar USD1,28 miliar.
 
Lebih lanjut, dari 10 besar komoditas utama ekspor, komoditas bijih logam, terak dan abu (HS 26) mengalami pertumbuhan tertinggi yakni 96,32 persen (yoy) menjadi sebesar USD6,35 miliar. Diikuti oleh ekspor komoditas besi dan baja (HS 72) yang juga naik signifikan mencapai 92,88 persen (yoy) menjadi senilai USD20,95 miliar.
 
"Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Tercermin pula dari meningkatnya penciptaan nilai tambah pada sektor manufaktur. Terbukti secara kumulatif, ekspor non migas hasil industri pengolahan Januari - Desember 2021 naik 35,11 persen (yoy) menjadi sebesar USD177,11 miliar," ungkapnya.

Impor Indonesia

Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada 2021 juga meningkat menjadi sebesar USD196,20 miliar atau tumbuh 38,59 persen (yoy). Struktur impor Indonesia selama tahun lalu didominasi impor golongan bahan baku dan penolong senilai USD147,38 miliar atau 75,12 persen dari total impor.
 
Kemudian, impor barang modal USD28,63 miliar atau 14,59 persen dari total impor, dan barang konsumsi USD20,18 miliar atau 10,29 persen dari total impor. Struktur tersebut mengindikasikan perekonomian Indonesia yang produktif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kembali.
 
"Kinerja positif di 2021 ini akan terus dipertahankan pemerintah dengan mengoptimalkan berbagai kebijakan, terutama dalam mendorong semakin banyaknya ekspor komoditas bernilai tambah," pungkas Airlangga.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan