Pemerintah tak akan menerbitkan surat utang (obligasi) dalam denominasi euro. Foto: AFP.
Pemerintah tak akan menerbitkan surat utang (obligasi) dalam denominasi euro. Foto: AFP.

Krisis Eropa, Pemerintah tak Terbitkan Obligasi Euro

Antara • 01 Oktober 2022 09:27
Jakarta: Pemerintah tak akan menerbitkan surat utang (obligasi) dalam denominasi euro atau Euro Bond pada tahun ini, karena mata uang negara-negara Eropa tersebut kondisinya sedang tidak baik di tengah gejolak ekonomi saat ini.
 
baca juga: Penguatan Imbal Hasil Obligasi AS Pangkas Emas Dunia Tipis-Tipis

"Saat ini euro sangat jelek, makanya tahun ini tidak kami terbitkan karena sedang tidak bagus," ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman dikutip dari Antara, Jumat, 1 Oktober 2022.
 
Ia menyebutkan nilai tukar euro terhadap dolar AS sedang turun saat ini, padahal mata uang Uni Eropa itu biasanya justru berada di atas mata uang Negeri Paman Sam.
 
Dengan demikian keputusan tersebut merupakan gambaran bahwa penerbitan surat utang pemerintah Indonesia dalam denominasi valuta asing (valas) bersifat fleksibel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, kata Luky, penerbitan surat utang valas Indonesia juga bersifat oportunistik, sehingga jika memang nantinya pasar sedang baik dan mata uang euro dalam kondisi bagus barulah kemungkinan terdapat penerbitan obligasi dalam denominasi euro.
 
Penerbitan surat utang dalam bentuk euro merupakan salah satu diversifikasi pemerintah dalam menerbitkan obligasi valas jika dirasa penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS sedang berisiko.
 
"Kami juga melakukan diversifikasi dengan menerbitkan obligasi dalam bentuk yen Jepang atau yang biasa disebut Samurai Bond," tuturnya.
 
Salah satu risiko yang dipertimbangkan dalam penerbitan surat utang valas adalah risiko nilai tukar rupiah. Kendati begitu, dirinya menilai risiko terhadap nilai tukar rupiah kini tak perlu terlalu dikhawatirkan karena porsi surat utang valas terhadap total surat utang pemerintah sudah tak sebesar dahulu.
 
Adapun porsi obligasi valas pemerintah sempat menyentuh kisaran 40 persen, namun kini hanya 28,9 persen untuk menurunkan risiko terhadap kurs rupiah.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif