Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti (kiri) (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti (kiri) (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)

BPS Catat Februari 2019 Deflasi 0,08%

Ekonomi inflasi inflasi deflasi bps ekonomi indonesia
Annisa ayu artanti • 01 Maret 2019 09:58
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2019 Indonesia deflasi sebesar 0,08 persen. Secara tahunan kalender, inflasi pada Februari 2019 mencapai sebesar 0,24 persen, sedangkan secara tahun ke tahun terjadi inflasi sebesar 2,57 persen.
 
"Pada Februari 2019 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019, seraya menambahkan bahwa dari 82 kota cakupan perhitungan inflasi sebanyak 69 kota deflasi, sementara 13 kota inflasi.
 
Adapun deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,11 persen dan deflasi terendah terjadi di Serang 0,02 persen. Sedangkan inflasi tertinggi di Tual 2,98 persen dan inflasi terendah terjadi di Kendari 0,03 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Deflasi tertinggi di Merauke karena penurunan harga sayuran dan cabai. Sedangakan inflasi tertinggi di Tual karena kenaikan harga sayuran bayam dan ikan," jelas dia.
 
Berdasarkan kelompoknya, BPS mencatat bahan makanan mengalami deflasi 1,11 persen. "Ini satu-satunya yang mengalami deflasi. Yang lainnya mengalami inflasi," ucap Yunita.
 
Bahan makanan memberikan andil deflasi 0,24 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi adalah daging ayam ras, cabai merah, telur ayam, ras, bawang merah, cabai rawit, ikan segar, wortel, dan jeruk. Sedangkan dari bahan makanan yang andil dalam inflasi antara lain beras mi kering instan dan bawang putih.
 
Untuk kelompok makan jadi, minumam, rokok dan tembakau BPS mencatat inflasi 0,31 persen. Kelompok rumah, listrik, dan bahan bakar tercatat inflasi 0,25 persen. Kemudian, kelompok sandang inflasi sebesar 0,27 persen, kelompok kesehatan 0,36 persen, dan kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga inflasi 0,11 persen, serta kelompok transportasi inflasi 0,05 persen.
 
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi inti sepanjang Februari 2019 bergerak rendah. Pasalnya, ketersediaan pasokan mampu memenuhi peningkatan permintaan dalam negeri. "Jadi kalau lihat dari penawaran agregat itu masih lebih tinggi dari penawaran permintaan agregat. Artinya, output gap itu masih negatif," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.
 
Kondisi output gap yang masih negatif, jelasnya, menunjukkan bahwa tekanan inflasi dari permintaan masih terkendali. Meskipun faktor permintaan dalam negeri mengalami kenaikan. Selain itu, sambungnya, ekspektasi bank sentral terhadap pergerakan harga-harga sepanjang Februari 2019 juga rendah.
 
Di Februari 2019, BI memperkirakan perkembangan harga terjadi deflasi 0,07 persen (mtm), sedangkan secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,58 persen (yoy). "Ketiga, inflasi yang dari luar negeri baik karena rupiah maupun imported inflation itu tetap rendah. Semuanya mendukung inflasi inti yang terkendali," pungkas dia.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif