Pasar Keuangan RI kembali Diminati
Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI) Febrio Kacaribu. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Jakarta: Nilai tukar rupiah terus menguat. Pergerakan nilai tukar mata uang Garuda yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, kemarin sore, menguat sebesar 163 poin menjadi Rp14.361 per USD jika dibandingkan dengan posisi sehari sebelumnya Rp14.524 per USD.

Menurut peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI) Febrio Kacaribu, penyebabnya ialah pernyataan gubernur bank sentral AS yang menilai kenaikan suku bunga The Fed (bank sentral AS) saat ini sudah cukup tinggi.

"Sebagai akibatnya semakin banyak investor global yang mempercepat penyesuaian portofolio mereka untuk kembali membeli aset-aset dari emerging market, seperti Indonesia," ujat Febrio, Kamis, 29 November 2018.

Di antara negara emerging market, menurut Febrio, penguatan nilai tukar rupiah cukup menonjol, bahkan dalam satu bulan terakhir yang terapresiasi sebesar 5,87 persen.

Dia menilai ada tiga faktor besar yang memengaruhi hal ini. Pertama, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif lebih baik daripada negara emerging market lainnya. Kedua, Bank Indonesia relatif lebih agresif jika dibandingkan dengan bank sentral negara lain dalam menahan gejolak nilai tukar sehingga pertumbuhan kredit perbankan cukup signifikan walaupun BI telah beberapa kali menaikkan suku bunga.

"Yang ketiga adalah tren penurunan harga minyak mentah yang akan menolong penurunan defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD)," tegasnya.

Namun, walaupun aliran capital inflow akan terus terjadi ke obligasi rupiah maupun saham, menurut Febrio, penguatan rupiah dalam jangka pendek mungkin agak tertahan di sekitar Rp14 ribu-an per USD.

"Intinya pasar Indonesia terlihat lebih menarik lagi dibandingkan dengan persepsi mereka di bulan lalu. Meski demikian risiko masih ada, terutama kemungkinan harga minyak dunia naik lagi."

Seperti halnya rupiah, indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, juga ditutup menguat sebesar 1,93 persen seiring aksi beli investor asing. Begitu pula kelompok 45 saham unggulan naik 23,49 poin atau 2,46 persen menjadi 977,66. (Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id