Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.

BI Akui Masih Ada Ruang Pelonggaran Kebijakan Moneter

Ekonomi bank indonesia kebijakan fiskal
Husen Miftahudin • 22 November 2019 16:29
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut positif permintaan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait pertimbangan otoritas untuk menurunkan suku bunga acuan. Bank sentral melihat masih ada ruang untuk pelonggaran kebijakan, baik moneter maupun makroprudensial.
 
"Bisa (pelonggaran) suku bunga, GWM (Giro Wajib Minimum), dan bisa di makroprudensial. Masih terbuka ruang kebijakan BI yang akomodatif," ujar Perry di kompleks perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 22 November 2019.
 
Ruang pelonggaran kebijakan bank sentral terlihat setelah Bank Indonesia melakukan evaluasi dan memperkirakan ekonomi global beserta pergerakan perekonomian domestik. Namun sebelum memutuskan pelonggaran kebijakan, Bank Indonesia akan melihat data-data pasar terlebih dahulu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Secara jelas BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan BI yang akomodatif. Bentuk dan waktunya (pelonggaran) akan disesuaikan data dependen dan perkembangan ekonomi domestik serta global," ungkap Perry.
 
Airlangga Hartarto sebelumnya meminta BI untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga acuan. Apalagi peluang bank sentral menurunkan BI 7-Days Repo Rate itu cukup terbuka lantaran kondisi dalam negeri yang terjaga.
 
"Peluang BI untuk menurunkan suku bunga kebijakannya cukup besar ke depan," kata Airlangga dalam keterangannya, Kamis, 21 November 2019.
 
Airlangga menyebut inflasi sampai dengan Oktober 2019 terjaga di level 3,13 persen atau masih di bawah target 3,5 plus minus satu persen. Sementara itu, stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga terjaga di kisaran Rp14 ribu per USD.
 
Dirinya menambahkan suku bunga kebijakan BI saat ini sebesar lima persen masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, misalnya Filipina empat persen, Malaysia tiga persen, dan Thailand 1,5 persen.
 
"Meski tekanan inflasi di dalam negeri berada pada tren yang menurun dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level yang relatif stabil, BI kemungkinan masih memandang risiko eksternal masih cukup tinggi" ungkapnya.
 
Dia juga menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) dinilai sudah tepat. Airlangga juga mengapresiasi langkah penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) yang dilakukan BI dalam upaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan.
 
"BI tentunya telah mempertimbangkan berbagai faktor dalam keputusannya baik yang berasal dari faktor di dalam negeri maupun di luar negeri. Keputusan mempertahankan suku bunga yang diambil BI, saya rasa itu merupakan keputusan optimal," ucap dia.
 
Dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Kamis, 21 November 2019, bank sentral memutuskan untuk menetapkan suku bunga acuan di level lima persen. Posisi ini tidak berubah ketimbang hasil RDG Bank Indonesia bulan sebelumnya.
 
Selain itu, otoritas juga mempertahankan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing sebesar 4,25 persen dan 5,75 persen. Sementara, GWM rupiah untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah maupun unit usaha syariah turun sebesar 50 bps, sehingga masing-masing menjadi 5,5 persen dan empat persen dengan GWM rerata masing-masing tetap sebesar tiga persen.
 
"Ketentuan giro wajib ini berlaku efektif pada 2 Januari 2020. Kebijakan ini ditempuh untuk menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi," pungkas Perry.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif