| Baca juga: Pembelian Dolar AS Makin Diperketat! BI Batasi Maksimal USD25 Ribu Mulai Juni 2026 |
Namun, analisis Mirae Asset Sekuritas Indonesia memiliki pandangan berbeda. Dalam riset terbarunya, ekonom Mirae Asset memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% dengan pendekatan yang disebut sebagai hawkish hold.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, menilai kenaikan suku bunga saat ini belum tentu efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, pelemahan mata uang domestik lebih banyak dipengaruhi faktor struktural dan derasnya arus modal keluar dari pasar domestik.
Selain itu, kenaikan suku bunga dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal pemerintah. Pasalnya, pemerintah menghadapi kebutuhan pembiayaan besar dan utang jatuh tempo yang diperkirakan mencapai hampir Rp900 triliun tahun ini.
“Realitas politik ekonomi saat ini menunjukkan pemerintah lebih memprioritaskan target
pertumbuhan ekonomi 8% dibandingkan stabilitas nilai tukar,” tulis Mirae Asset dalam risetnya.
Mirae Asset menilai ruang BI untuk melakukan pengetatan moneter menjadi semakin terbatas di tengah kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Meski demikian, BI diperkirakan tetap akan mengambil sikap tegas melalui strategi hawkish hold. Artinya, bank sentral mempertahankan suku bunga, tetapi tetap memberikan sinyal kesiapan untuk bertindak jika tekanan pasar meningkat.
Sejumlah faktor eksternal juga dinilai mendukung keputusan menahan suku bunga. Di antaranya adalah kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, potensi meredanya permintaan valuta asing musiman pada Juli-Agustus, serta tekanan geopolitik global yang mendorong kenaikan harga minyak dan memperlebar tekanan pada transaksi berjalan Indonesia.
Sebagai gantinya, BI diperkirakan akan lebih mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Langkah tersebut meliputi intervensi agresif di pasar valuta asing, pengetatan likuiditas melalui penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pembelian selektif obligasi pemerintah tenor panjang guna menahan lonjakan yield surat utang negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News