Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro (Foto: Bappenas)
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro (Foto: Bappenas)

Bappenas Sebut Jasa Perkapalan Sumbang Defisit Cukup Besar

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekspor defisit transaksi berjalan ekonomi indonesia
14 November 2018 13:35
Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyoroti sektor jasa perkapalan yang menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap defisit transaksi berjalan. Hal itu sejalan dengan jasa kapal yang menjadi salah satu penyumbang defisit terbesar di neraca jasa.
 
"Jasa kapal ini salah satu penyumbang defisit terbesar di neraca jasa. Ketika kita ekspor, apapun itu, dengan kapal asing maka kita mendapat devisa hasil ekspor, namun di saat yang bersamaan kita juga membuang devisa," ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro, seperti dikutip dari Antara, di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu, 14 November 2018.
 
Ia mengatakan masalah dalam ekspor dan impor yaitu membutuhkan kapal yang memiliki jalur pelayaran langsung masuk dan ke luar negeri. Dengan kata lain, kapal tersebut harus kapal dengan skala menengah besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini yang belum banyak dimiliki oleh perusahaan besar di Indonesia. Jadi kita tergantung kepada kapal maskapai asing yang memang dia sudah lama sekali menguasai bidang itu," kata Bambang.
 
Menurut dia salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan memperkuat industri perkapalan di Tanah Air sehingga devisa yang dihasilkan dapat jauh lebih optimal. "Selain itu, perlu diciptakan lebih banyak lagi rute langsung pelabuhan tujuan, apakah di Asia Timur, Eropa, maupun Amerika. Artinya pelabuhan ditingkatkan terus," ujar Bambang.
 
Bank Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2018 meningkat menjadi 3,37 persen dari PDB atau sebesar USD8,8 miliar, dibandingkan kuartal dengan di kuartal II-2018 yaitu 3,02 persen dari PDB atau USD8 miliar.
 
Meski pada paruh ketiga ini defisit meningkat, namun jika melihat dari awal tahun hingga akhir kuartal III-2018, defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif sebesar 2,86 persen PDB. Defisit yang meningkat pada kuartal III-2018 karena memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan melebarnya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif